Penggunaan Human Cell Line dalam Produksi Vaksin Virus (02)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Teknik Kultur Sel: Teknologi Penting dalam Vaksinologi

Dalam seri sebelumnya dijelaskan bahwa kultur virus membutuhkan sel yang sesuai. Darimana sel ini berasal? Tentu kita ingat pelajaran sekolah dulu: beberapa jenis sel berkumpul membentuk jaringan, lalu membentuk organ (paru, liver, jantung dan sebagainya.

Artinya, sel tersebut didapatkan dari jaringan atau organ yang sesuai. Sel hati (hepatosit) didapatkan dari organ hati (liver), misalnya dari organ hati yang dipotong karena indikasi medis tertentu (bukan dari hasil ilegal seperti perdagangan organ). Di laboratorium, sel hati (hepatosit) ini akan dimurnikan. Hal ini tentu pekerjaan yang sulit. Karena dalam organ liver juga mengandung sel darah, sel epitel, dan sel-sel lainnya. Artinya, dibutuhkan teknik dan metode tertentu untuk memisahkan sel hati dari sel-sel lainnya. Bayangkan ketika kita mencampur antara gula dengan garam, lalu kita diminta lagi untuk memisahkan keduanya menjadi murni gula dan murni garam. Ketika sel hati tersebut berhasil dimurnikan, sel tersebut diistilahkan dengan sel primer (primary cells), karena langsung dimurnikan dari organ manusia.

Kita bisa membayangkan bahwa untuk menumbuhkan virus, kita tentu membutuhkan sel dalam jumlah yang sangat besar. Sangat tidak mungkin ketika hendak mengkultur virus, kita harus memurnikan lagi sel hati (hepatosit) dari organ liver. Hal itu sangat tidak efisien, apalagi jika harus menunggu potongan organ dari pasien selanjutnya, yang belum tentu ada dan cukup secara kuantitas.

Oleh karena itu, peneliti mengembangkan teknik kultur sel. Yaitu teknik untuk menumbuhkan sel tersebut dalam media buatan sehingga sel yang sudah dimurnikan tersebut dapat berkembang biak. Sel-sel tersebut akan tumbuh dan berkembang biak dalam media buatan tersebut, sebagaimana mereka berkembang biak di tubuh manusia. Sel-sel yang telah dikembangbiakkan di media buatan ini disebut dengan cell line. Mereka pada umumnya memiliki spesifikasi dan karakteristik tertentu, sehingga laboratorium yang mengembangkan sel tersebut akan mempatenkan namanya. Dari sinilah muncul nama yang cukup terkenal karena kehebohan vaksin saat ini, yaitu cell line WI-38.

Mengenal Cell Line WI-38

Penelitian virus pada masa lalu terkendala dengan ketersediaan cell line untuk mengkultur virus. Ketika itu, kebanyakan cell line dikembangkan dari jaringan atau organ yang dibuang melalui proses pembedahan karena mengalami kanker. Karena secara etika, tidak boleh mengambil (memotong) organ dari orang sehat. Potongan kanker inilah yang kemudian dimurnikan sel-nya dan digunakan untuk penelitian. Tentu saja, ada kelemahan yang didapatkan dari cell line ini, karena cell line tersebut berasal dari jaringan kanker, bukan jaringan sehat.

Pada tahun 1962, seorang wanita di Swedia menjalani aborsi legal atas pilihan dia sendiri pada usia kehamilan 4 bulan karena dia tidak ingin memiliki anak lagi. Tindakan tersebut legal menurut aturan hukum dan undang-undang yang berlaku di Swedia. Janin hasil aborsi dikirim ke Karolinska Institute, salah satu universitas terkenal di Swedia. Dari Swedia, janin tersebut kemudian dikirim ke The Wistar Institute (WI) for Anatomy and Biology, di Philadelphia, Amerika Serikat.

Leonard Hayflick, salah seorang ahli mikrobiologi di WI, kemudian berhasil memurnikan sel fibroblast paru dari janin tersebut dan kemudian dikembangbiakkan di laboratorium WI. Sel hasil kultur di laboratorium ini kemudian diberi nama WI-38. Dibandingkan dengan jenis cell line lainnya, WI-38 memiliki keunggulan karena dimurnikan dari jaringan sehat (normal), bukan dari jaringan kanker (yang abnormal atau tidak sehat). Oleh karena itu, untuk mendapatkan cell line WI-38, sel induk WI-38 cukup ditumbuhkan di laboratorium, bukan dengan mendapatkan janin hasil aborsi yang baru [1]. Dari sini jelaslah bahwa janin tersebut bukan sengaja diaborsi demi mendapatkan sel WI-38 yang kemudian digunakan dalam produksi vaksin. Dua kesalahpahaman ini harus diluruskan.

Pada tahun 1960-an, Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia dilanda wabah rubella yang sangat parah sehingga banyak wanita hamil terinfeksi virus rubella. Akibatnya, banyak anak yang dilahirkan dengan cacat bawaan (Congenital Rubella Syndrome, CRS) seperti katarak, gangguan jantung, dan kelainan-kelainan bawaan lainnya. Cacat bawaan tersebut bisa menyebabkan aborsi spontan, atau dengan indikasi tertentu, boleh dilakukan aborsi medis.

Virus rubella akhirnya berhasil diisolasi dari janin hasil aborsi yang berasal dari salah seorang wanita hamil berusia 25 tahun di Amerika Serikat yang terinfeksi virus rubella secara alamiah (bukan sengaja diinfeksi untuk kepentingan vaksin). Jadi, aborsi tersebut dilakukan atas indikasi medis yang legal (karena janin mengalami kelainan bawaan atau CRS). Untuk mengembangkan vaksin rubella, tentu saja virus rubella tersebut harus dikembangbiakkan lebih lanjut di laboratorium. Para peneliti pun mencoba menumbuhkan virus rubella tersebut di sel WI-38, dan akhirnya berhasil [2]. Sel WI-38 ternyata juga berhasil digunakan untuk mengkultur berbagai jenis virus lainnya, seperti rabies, measles (campak), polio dan sebagainya.

Karena hanya digunakan untuk mengkultur virus, setelah virus dihasilkan dalam jumlah besar dan dimurnikan, sel tersebut kemudian dibuang (dipisahkan). Selanjutnya, virus tersebut akan diolah lebih lanjut untuk menghasilkan vaksin, baik dengan dilemahkan (teknik atenuasi) atau dengan dimatikan (teknik inaktivasi). Oleh karena itu, produk akhir vaksin yang masuk ke dalam tubuh kita, sama sekali tidak mengandung human cell line.

Penemuan vaksin rubella yang sangat efektif mencegah terjadinya infeksi rubella, tentu saja mencegah terjadinya abortus-abortus berikutnya pada bayi yang disebabkan karena CRS. Sebagai contoh, sebelum vaksin rubella digunakan secara luas di Amerika Serikat, terdapat lebih dari 800 kasus congenital rubella syndrome (CRS) per tahun. Pada epidemi virus rubella tahun 1963-1964, diperkirakan terdapat ~20.000 anak dilahirkan dengan CRS, ~6.250 janin mengalami aborsi spontan dan ~5.000 janin mengalami aborsi atas indikasi medis. Pada tahun 2001, setelah vaksin rubella secara luas digunakan, CDC melaporkan “hanya” 23 kasus rubella di Amerika Serikat. Oleh karena itu, hendaknya para antivaks tidak menutup mata akan hal ini.

Penggunaan human cell lines memang tidak ideal, terutama menyangkut aspek etika. Para peneliti terus berusaha untuk menemukan medium dan teknik baru yang dapat digunakan untuk memproduski vaksin. Misalnya, vaksin hepatitis B yang diproduksi dengan teknologi DNA rekombinan. Untuk vaksin-vaksin virus lainnya, dengan segala keterbatasan ilmu pengetahuan manusia saat ini, human cell line merupakan medium terbaik yang dapat digunakan [3].

Kesimpulan

  1. Abortus yang masing-masing dilakukan untuk mendapatkan virus rubella dan sel WI-38 adalah abortus yang legal atas indikasi medis atau pilihan ibu sendiri. Bukan sengaja diaborsi untuk kepentingan produksi vaksin.
  2. Untuk memproduksi vaksin, sel WI-38 ditumbuhkan dan dikembangbiakkan di laboratorium, bukan dengan melakukan aborsi-aborsi baru.
  3. Produk akhir vaksin yang masuk ke dalam tubuh kita, sama sekali tidak mengandung human cell line.
  4. Penemuan vaksin rubella dan efektivitas penggunaannya telah mencegah terjadinya ribuan aborsi janin setiap tahunnya yang disebabkan oleh Congenital Rubella Syndrome (CRS).

***

Diselesaikan menjelang ashar, Rotterdam NL 15 Dzulqa’dah 1438/8 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] https://www.nature.com/news/medical-research-cell-division-1.13273

[2] Plotkin SA, Cornfeld D, Ingalls TH. Studies of immunization with living rubella virus. Am J Dis Child 1965; 110 (4): 381-389.

[3] Hakim MS et al. Imunisasi: Lumpuhkan Generasi? Menjawab Tuduhan Ummu Salamah, SH., Hajjam. Pustaka Muslim Yogyakarta, 2014.

 

.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply