Penyebaran Virus Zika ke Singapura dan Indonesia, Hasil Rekayasa atau Alamiah?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

“Asal usul masuknya virus zika ke Indonesia harus diselidiki dengan cermat apakah penyebarannya secara alamiah ataukah rekayasa manusia.”

Kalimat di atas adalah pengantar sebuah berita yang bisa didapatkan di link berikut ini:
http://nasional.sindonews.com/read/1137076/15/siti-fadilah-virus-zika-alamiah-atau-rekayasa-manusia-1473141031

Kami sangat menyesalkan pemberitaan semacam ini, yang lagi-lagi berpotensi meresahkan masyarakat. Padahal, informasi-informasi pendukung dan valid menunjukkan bahwa pernyataan tersebut tidak berdasar. Lagi-lagi, pernyataan tersebut didasarkan atas dalih teori konspirasi. Juga wartawan yang (mungkin) seenaknya saja membuat framing berita yang tidak benar. Semoga saja wartawan salah mengutip pernyataan beliau.
Lalu, apakah penyebaran masuknya virus Zika ke Indonesia ada potensi hasil rekayasa manusia? Berikut ini sedikit penjelasan dan analisis kami:

Pertama, virus Zika SUDAH pernah terdeteksi di Indonesia pada pasien di Klaten tahun 1977-1978 melalui pemeriksaan serologis (antibodi terhadap virus Zika), lebih dari 35 tahun yang lalu. Artinya, virus Zika selama ini SUDAH bersirkulasi di Indonesia, BUKAN virus yang baru masuk ke Indonesia pada saat ini. [1]
Pada tahun 2013 dan 2015 (sebelum wabah Brazil), juga sudah ada dua laporan infeksi virus Zika pada pelancong Australia yang melakukan kunjungan ke Jakarta [2] dan Bali [3]. Artinya, virus Zika memang bersirkulasi di Indonesia sejak dulu sampai sekarang.
Yang menarik, ke dua virus Zika dari Jakarta dan bali tersebut sangat dekat dengan virus Zika yang diperoleh dari kepulauan Yap, Mikronesia (negara kepulauan di timur laut pulau Papua, Indonesia) pada saat terjadinya wabah virus Zika di kepulauan tersebut pada tahun 2007 [3, 4].

Ke dua, pada saat terjadinya wabah di Amerika Latin dimulai di Brazil bulan April tahun 2015, virus Zika kembali dilaporkan oleh para peneliti di Indonesia dari sampel Desember 2014 – April 2015 di rumah sakit di Jambi, artinya SEBELUM wabah di Amerika Latin pertama kali merebak. [5] Bukti terbaru ini pun semakin menunjukkan bahwa virus Zika memang secara alamiah bersirkulasi di Indonesia.

Ke tiga, begitu juga dengan virus Zika yang ditemukan di Singapura, bukanlah virus “impor” dari Amerika Latin. Hasil analisis genetik menunjukkan bahwa virus ini sama dengan virus Zika yang bersirkulasi di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya sejak beberapa dekade yang lalu. [6]
Oleh karena itu, penjelasan yang sangat mungkin adalah adanya peningkatan kewaspadaan terhadap virus Zika sejak terjadinya wabah terjadi di Brazil sehingga virus Zika saat ini (semakin banyak) terdeteksi pada sejumlah pasien. Karena gejala terinfeksi virus Zika tidak spesifik, dan mirip dengan gejala demam dengue atau penyebab demam lainnya, sehingga sebelumnya luput dari perhatian tenaga kesehatan (under- atau mis-diagnosis).

Ke empat, kita mengetahui bahwa virus terdiri dari beberapa strains, atau genotype, atau serotype, yang bisa jadi antar strain memiliki perbedaan keganasan (virulensi). Sebagai analogi, ada manusia yang lemah gemulai, ada yang gagah perkasa, ada yang biasa-biasa saja, meskipun sama-sama manusia. Sama halnya dengan virus Zika.
Betul bahwa saat ini bukti-bukti penelitian semakin kuat menunjukkan bahwa virus Zika menyebabkan mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal). [7, 8]
Namun, kita belum tahu, apakah virus Zika yang beredar di Indonesia dan Singapura juga memiliki virulensi yang sama dengan strain virus Zika Brazil? Tentunya hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Ke lima, tidak semua laboratorium memiliki kemampuan untuk “bermain-main” atau -bahkan- melakukan rekayasa genetik pada virus. Dan laboratorium tersebut pun berada di bawah pengawasan ketat oleh lembaga terkait. Virus pun hanya digunakan untuk keperluan penelitian (sains). Kita yang meneliti virus pasti mengetahui betapa ketatnya prosedur tersebut, di mana perijinan bisa memakan waktu 1-2 tahun, atau bahkan lebih. Karena semua aspek keamanan, termasuk analisis dampak ke lingkungan sekitarnya, akan diperhitungkan dengan cermat. Sangat kecil kemungkinan –dan tidak ada indikasi- jika virus tersebut jatuh ke pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan ancaman bio-terorisme sebagaimana anggapan sebagian kalangan yang terpengaruh teori konspirasi. Apalagi, “bermain-main” dengan virus membutuhkan level proteksi (perlindungan diri) tertentu yang tidak semua orang atau laboratorium bisa melakukannya.
Apalagi, pada era tahun 1970an ketika virus Zika dilaporkan pertama kali di Indonesia, ketika itu teknologi melakukan rekayasa genetik pada virus belumlah secanggih saat ini.

Ke enam, keganasan virus Zika masih di bawah virus dengue penyebab demam berdarah, meskipun ditularkan oleh nyamuk yg sama. Dan selama ini sudah banyak usaha dilakukan untuk menekan penyebaran virus dengue. Artinya, usaha-usaha selama ini untuk menekan penyebaran virus dengue dengan pengendalian vektor (nyamuk), secara tidak langsung telah menekan penyebaran virus Zika.

Ke tujuh, kewaspadaan memang diperlukan dalam situasi global saat ini, apalagi bagi ibu hamil. Langkah-langkah antisipatif tetap diperlukan. Hanya, masyarakat jangan semakin dibuat resah, ketakutan, dan panik dengan pernyataan-pernyataan yang hanya berdasarkan teori konspirasi. Apalagi tanpa membaca penelitian-penelitian yang telah dipublikasi sebelumnya secara mendalam terlebih dahulu. Kalaupun ada bukti dan indikasi kuat, sebaiknya dilaporkan ke pihak terkait untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut, bukan dengan hanya melempar isu yang semakin meresahkan masyarakat.
Semoga penjelasan ini bermanfaat.

Penulis: M. Saifudin Hakim

Referensi:
[1] Olson JG et al. Zika virus: a cause of fever in Central Java, Indonesia. Trans R Soc Trop Med Hyg 1981; 75(3): 389-93.
[2] Kwong JC et al. Zika virus infection acquired during brief travel to Indonesia. Am J Trop Med Hyg 2013; 89(3): 516-517.
[3] Leung GH et al. Zika Virus infection in Australia following a monkey bit in Indonesia. Southeast Asian J Trop Med Public Health 2015; 46(3): 460-464.
[4] Duffy MR et al. Zika virus outbreak on Yap Island, Federated States of Micronesia. N Engl J Med 2009; 360: 2536-2543.
[5] Perkasa A et al. Isolation of Zika virus from febrile patients, Indonesia. Emerging Infect Dis 2016; 22(5): 924-5.
[6] http://www.channelnewsasia.com/news/singapore/zika-strain-in-singapore-similar-to-ones-in-se-asia-since-1960s/3110910.html
[7] http://www.sciencemag.org/news/2016/05/zika-causes-microcephaly-mice
[8] Garcez PP et al. Zika virus impairs growth in human neurospheres and brain organoids. Science 2016; 352(6287): 816-818.

 

*****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter.

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply