Prinsip Menutup Aurat Dalam Penanganan Pasien

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islamy (Perhimpunan Fiqih Islam/ Divisi fiqih OKI) tentang prinsip-prinsip menutup aurat saat mengobati pasien.

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi yang tidak ada lagi Nabi setelah beliau, Sayyidina Muhammad beserta keluarga dan sahabat beliau. Majelis Majma’ al-Fiqh al-Islamy di bawah Rabithah al-‘Alam al-Islami memutuskan sebagai berikut:

(1). Pada dasarnya di dalam syariat bahwa laki-laki tidak diperbolehkan menyingkap aurat wanita dan sebaliknya. Demikian juga laki-laki tidak boleh membuka aurat sesama laki-laki dan wanita tidak boleh membuka aurat sesama wanita.

(2). Majma’ (komite perhimpunan) memperkuat keputusan yang dikeluarkan oleh Majma’ al-Fiqh al-Islamy sesuai dengan hasil keputusan Muktamar Islam nomor 85/12/85, yang diadakan pada tanggal 1-7/1/1414 H. berikut teksnya:

“Pada dasarnya harus tersedia dokter wanita muslimah yang memiliki keahlian (spesialisasi) untuk memeriksa dan mengobati pasien wanita. Namun jika tidak tersedia dokter muslimah, maka pasien diperiksa dokter wanita non muslim. Jika tidak ada dokter wanita non muslim, maka diperiksa oleh dokter muslim laki-laki. Dan jika tidak terdapat dokter muslim laki-laki maka boleh digantikan oleh dokter laki-laki non muslim. Seorang dokter melihat tubuh wanita sebatas yang dibutuhkan saja sesuai jenis penyakit dan terapinya dan jangan melebihi bagian tersebut. Hendaklah dia berusaha menundukkan pandangan sebatas kemampuannya. Hendaklah seorang dokter memeriksa dan mengobati wanita ditemani oleh mahramnya, atau suaminya, atau wanita yang dipercaya untuk menghindari khalwat.”. Selesai penukilan.

(3). Dalam semua kondisi yang telah disebutkan, seorang wanita tidak boleh berkerja bersama-sama dengan dokter laki-laki kecuali ada tuntutan kedokteran yang memaksa untuk bekerja bersama dengannya. Dan dokter itu harus menjaga rahasia-rahasia pasien bila ada.

(4). Penanggung jawab kesehatan, atau penanggung jawab rumah sakit (direktur) wajib menjaga aurat kaum muslimin laki-laki dan perempuan dengan membuat peraturan-peraturan tertulis untuk mencapai tujuan ini, memberi sanksi kepada setiap orang yang tidak mau menghormati akhlak-akhlak kaum muslimin, menyusun peraturan yang mengharuskan untuk menutup aurat saat bekerja sesuai kebutuhan dengan menyiapkan pakaian (periksa) yang sesuai dengan petunjuk syariat.

(5). Majma’ menasehatkan sebagai berikut:

  • Hendaknya orang yang memiliki kewenangan di bidang kesehatan meluruskan (mengatur) kebijakan-kebijakan kesehatan, baik secara teoritis, metodologis, ataupun praktek agar sesuai dengan agama kita agama Islam yang lurus dan sesuai kaidah-kaidah akhlak yang mulia. Dan hendaklah mereka mengerahkan seluruh perhatian mereka untuk menghilangkan kesusahan dari kaum muslimin, serta menjaga kemuliaan dan kehormatan mereka.
  • Mengadakan (menghadirkan) pengarah syar’i di seluruh rumah sakit, yang bertugas memberi bimbingan dan pengarahan kepada pasien. Segala puji Allah Rabb semesta alam.

Selesai keputusan Majma’ al-Fiqh al-Islamy di bawah Rabithah al-‘Alam al-Islamy. Keputusan ini ditetapkan oleh sejumlah ulama yang diketuai oleh yang mulia al-Imam Abdul ‘Aziz bin Baz Rahimahullah.

Sumber            :  Al-Ajwibatun Nafi’ah Lil ‘Amiliin fil Majaalit Thibbi

Penulis             : Ibrahim Ismail Ghanim (Abu Abdirrahman)

Penerjemah      : dr. Supriadi

 

*****

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter.

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini

Share.

About Author

Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Alhamdulillah di sela-sela kuliah bisa ikut belajar Bahasa Arab di Madrasah Imam Ahmad bin Hambal Semarang. Aktivitas saat ini sebagai dokter umum di RSUD Propinsi di Sumbawa Besar dan aktif menulis artikel kesehatan Islam.

Leave A Reply