Ruqyah vs. Operasi Caesar (01): Pengertian Ruqyah

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Akhir-akhir ini, kita kembali dikejutkan dengan kontroversi yang tampaknya membenturkan antara pengobatan medis, dalam hal ini operasi caesar, dengan ruqyah syar’iyyah. Operasi caesar dianggap sebagai suatu hal yang tabu atau bahkan terlarang, dan mereka meng-klaim bahwa tindakan operasi tersebut dapat diganti dengan melakukan ruqyah pada ibu yang hendak melahirkan. Oleh karena itu, dalam tulisan ini kami ingin mendudukkan masalah ini secara proporsional, sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga penjelasan para ulama terpercaya.

Pengertian dan Hakikat Ruqyah

Ruqyah adalah penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an atau doa-doa tertentu. Oleh karena itu, hakikat dari ruqyah adalah seseorang berdoa kepada Allah Ta’ala untuk meminta kesembuhan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

الرقية وهو نوع من السؤال

“Ruqyah merupakan salah satu bentuk permintaan (doa).” (Majmu’ Fatawa, 1/78) 

Dalil-Dalil yang Menunjukkan Pengobatan dengan Metode Ruqyah

Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa pengobatan dengan metode ruqyah disyariatkan dalam ajaran agama Islam yang mulia. Hal ini dapat kita ketahui dari dalil-dalil dalam Al Qur’an maupun As-Sunnah. Metode ruqyah juga telah dipraktikkan oleh generasi terbaik umat ini, yaitu para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalil pertama, Allah Ta’ala berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra’ [17]: 82) 

Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan, ”Firman Allah dalam ayat ini (yaitu),’suatu yang menjadi obat’ mencakup obat bagi penyakit hati, seperti keragu-raguan, nifaq, dan lain sebagainya. Dan juga obat bagi penyakit badan (penyakit jasmani) dengan dibacakan ruqyah kepada penyakit tersebut. Hal ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh kisah diruqyahnya seseorang yang disengat kalajengking dengan surat Al-Fatihah. Kisah ini merupakan kisah yang shahih dan terkenal.” (Tafsir Adhwa’ul Bayaan, hal. 598)

Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,”Obat yang terkandung dalam Al-Qur’an bersifat umum, yaitu mencakup obat bagi penyakit hati dari syubhat, kebodohan, pemikiran yang rusak, penyimpangan, dan maksud-maksud yang jelek. Al-Qur’an mengandung ilmu yang dapat menghilangkan setiap syubhat dan kebodohan, mengandung nasihat dan peringatan yang dapat menghilangkan hawa nafsu yang menyelisihi perintah Allah. Al-Qur’an juga mengandung obat bagi badan dari penyakit yang menimpanya.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 465)

Dalil ke dua, Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)

Dalil ke tiga, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَنْفُثُ عَلَى نَفْسِهِ فِى الْمَرَضِ الَّذِى مَاتَ فِيهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ ، فَلَمَّا ثَقُلَ كُنْتُ أَنْفِثُ عَلَيْهِ بِهِنَّ ، وَأَمْسَحُ بِيَدِ نَفْسِهِ لِبَرَكَتِهَا .

”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meniupkan kepada dirinya (bacaan) mu’awwidzatain (yaitu surat Al-Falaq dan An-Naas, pen.) ketika sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia. Ketika beliau sudah lemah, maka saya meniupkan (bacaan) mu’awwidzatain untuknya dan saya mengusap dengan menggunakan tangan beliau, karena mengharapkan berkahnya.” (HR. Bukhari)

Dalil keempat, dalam sebuah hadits yang cukup panjang, Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَتَوْا عَلَى حَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَلَمْ يَقْرُوهُمْ ، فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ لُدِغَ سَيِّدُ أُولَئِكَ فَقَالُوا هَلْ مَعَكُمْ مِنْ دَوَاءٍ أَوْ رَاقٍ فَقَالُوا إِنَّكُمْ لَمْ تَقْرُونَا ، وَلاَ نَفْعَلُ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلاً . فَجَعَلُوا لَهُمْ قَطِيعًا مِنَ الشَّاءِ ، فَجَعَلَ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ ، وَيَجْمَعُ بُزَاقَهُ ، وَيَتْفِلُ ، فَبَرَأَ ، فَأَتَوْا بِالشَّاءِ ، فَقَالُوا لاَ نَأْخُذُهُ حَتَّى نَسْأَلَ النَّبِىَّ  صلى الله عليه وسلم  فَسَأَلُوهُ فَضَحِكَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ، خُذُوهَا ، وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ »

“Sesungguhnya sekelompok orang shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi suatu kampung orang Arab, namun (penduduk kampung tersebut) tidak mau menjamu mereka. Ketika dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba ketua kampung tersebut disengat kalajengking. Maka penduduk kampung berkata,’Apakah kalian memiliki obat atau seorang ahli ruqyah?’ Para shahabat menjawab,’Kalian tidak mau menjamu kami. Kami tidak akan meruqyah sampai kalian menetapkan semacam upah bagi kami’.

Penduduk kampung kemudian menjadikan beberapa ekor kambing sebagai upah bagi para shahabat. Kemudian seorang shahabat membacakan Ummul Qur’an (yaitu surat Al Fatihah, pen.), mengumpulkan ludahnya, dan meniupkannya (kepada ketua kampung tersebut). Lalu dia pun sembuh. Maka mereka pun memberikan kambing-kambing tersebut (kepada para shahabat). Para shahabat berkata,’Kami tidak akan mengambilnya sampai kami bertanya terlebih dahulu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian mereka pun bertanya kepada Rasulullah. Rasulullah pun tersenyum dan berkata,’Siapa yang memberitahu kalian bahwa dalam surat Al Fatihah adalah ruqyah? Ambillah kambing-kambing tersebut dan tolong aku juga diberi bagian.” (HR. Bukhari)

Dalil ke lima, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi atau didatangi orang sakit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa,

أَذْهِبِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ ، اشْفِ وَأَنْتَ الشَّافِى لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Hilangkan penyakit, wahai Rabb manusia, sembuhkanlah, Engkau Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalil ke enam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا رُقْيَة إِلَّا مِنْ عَيْن أَوْ حُمَة

”Tidak ada ruqyah (yang lebih mujarab) selain untuk ‘ain (pandangan mata jahat) dan demam (akibat sengatan binatang berbisa).” (HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 2832 dan Misykatul Mashobih no. 4557) 

Dalil ke tujuh, pengobatan dengan ruqyah juga telah dipraktikkan oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah meruqyah Tsabit ketika sakit dengan berdoa,

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

”Ya Allah, Rabb manusia, Penghilang sakit, sembuhkanlah, Engkaulah Yang Maha penyembuh, tidak ada Penyembuh kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. Bukhari) 

Berbagai dalil di atas menunjukkan bahwa metode ruqyah (ruqyah syar’iyyah) adalah salah satu metode yang disyariatkan ketika jatuh sakit. Tidak selayaknya bagi seseorang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia skeptis dan tidak percaya dengan ruqyah. Karena hal ini berarti dia telah menolak dan mendustakan sekian banyak dalil shahih yang menjelaskan ruqyah dan menjelaskan bahwa pengaruh ruqyah itu memang benar dan nyata adanya. [Bersambung]

***

Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 15 Dzulqa’dah 1438/8 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply