Ruqyah vs. Operasi Caesar (02): Syarat-Syarat Ruqyah yang Diperbolehkan

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Syarat-Syarat Ruqyah yang Diperbolehkan

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama bersepakat tentang bolehnya ruqyah jika terkumpul di dalamnya tiga syarat berikut ini. Pertama, dengan menggunakan kalamullah (Al-Qur’an), nama-nama, atau sifat-sifatNya. Kedua, dengan menggunakan bahasa Arab atau bahasa lain yang dapat difahami maknanya. Ketiga, berkeyakinan bahwa ruqyah tersebut tidak dapat memberikan pengaruh dengan sendirinya, tetapi karena takdir atau kehendak Allah Ta’ala. (Fathul Baari, 10/220)

Apabila tidak memenuhi syarat-syarat di atas, maka ruqyah tersebut tidak diperbolehkan. Termasuk di dalamnya yaitu ruqyah-ruqyah yang mengantarkan kepada kesyirikan. Juga ruqyah dengan menggunakan bahasa yang tidak dapat difahami maknanya (baca: mantra-mantra atau jampi-jampi) karena dikhawatirkan akan mengantarkan kepada syirik sehingga tidak diperbolehkan sebagai bentuk kehati-hatian. Dan apabila ruqyah tersebut mengandung unsur istighatsah (meminta bantuan) kepada jin, maka termasuk syirik akbar. Ruqyah model inilah yang dimaksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

”Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 331)  

Di antara dalil yang menunjukkan tidak diperbolehkannya ruqyah kalau mengandung unsur kesyirikan adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata,”Kami melakukan ruqyah pada masa jahiliyah. Maka kami berkata,’Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang hal tersebut?’”  Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

اِعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ ، لَا بَأْس بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْك

”Tunjukkanlah kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa dengan suatu ruqyah selama tidak mengandung unsur kesyirikan.” (HR. Muslim)

Dan juga hadits yang diriwayatkan dari Jabir radhiyallahu ‘anhu dimana beliau berkata,

نَهَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرُّقَى ، فَجَاءَ آل عَمْرو بْن حَزْم فَقَالُوا : يَا رَسُول اللَّه إِنَّهُ كَانَتْ عِنْدنَا رُقْيَة نَرْقِي بِهَا مِنْ الْعَقْرَب ، قَالَ : فَعَرَضُوا عَلَيْهِ فَقَالَ : مَا أَرَى بَأْسًا ، مَنْ اِسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَع أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ruqyah. Kemudian datanglah keluarga ‘Amr bin Hazm dan berkata,’Wahai Rasulullah, kami sudah biasa meruqyah ketika terkena kalajengking.’ Rasulullah menjawab,’Tunjukkanlah ruqyah kalian.’ Kemudian beliau bersabda,’Tidak mengapa dengan ruqyah kalian. Barangsiapa yang mampu memberikan manfaat bagi saudaranya (dengan membacakan ruqyah), maka hendaklah ia melakukannya!’”  (HR. Muslim) 

Al-Khaththabi rahimahullah berkata,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kadang meruqyah dan diruqyah. Beliau memerintahkannya dan membolehkannya. Apabila ruqyah tersebut dengan Al Qur’an atau dengan nama-nama Allah, maka diperbolehkan dan bahkan diperintahkan. Adanya larangan ruqyah adalah apabila menggunakan selain bahasa Arab, karena terkadang mengandung kekafiran dan perkataan syirik.” (Fathul Majiid, hal. 144) 

Ibnu Abil ‘Izzi Al-Hanafi rahimahullah berkata,”Mereka (para ulama) bersepakat bahwa tidak boleh mengucapkan segala bentuk mantra-mantra, jampi-jampi, dan sumpah yang mengandung unsur kesyirikan kepada Allah. Meskipun dengan cara itu mereka bisa menundukkan jin dan yang lainnya. Demikian pula, tidak boleh mengucapkan perkataan yang mengandung unsur kekufuran, atau ucapan yang tidak diketahui maknanya. Karena adanya kemungkinan bahwa di dalamnya terkandung unsur kesyirikan tanpa kita ketahui.” (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, 2/769) 

Ringkasnya, hakikat dari ruqyah yang tidak syar’i adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Baghawi rahimahullah,”Dan yang terlarang darinya adalah ruqyah yang terkandung kesyirikan, atau disebutkan (nama) setan yang durhaka, atau tanpa menggunakan bahasa Arab serta tidak diketahui maknanya. Barangkali (jika tidak diketahui maknanya) ada unsur sihir atau kekufuran di dalamnya.” (Syarhus Sunnah, 12/159) 

Oleh karena itu, hendaklah kaum muslimin waspada dari hal ini. Karena saat ini banyak sekali model mantra yang diiklankan atau ditulis di koran-koran. Sebagaimana edisi sebuah tabloid yang pernah penulis temui dan mengajarkan mantra-mantra tersebut dengan ritual tertentu sesuai dengan penyakit yang sedang diderita. Mereka menyatakan bahwa mantra-mantra yang mereka miliki sangat ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit. Masing-masing penyakit memiliki mantra tersendiri yang harus dibaca dengan ritual tertentu. Akan tetapi kalau kita mencermati lafadznya, maka bahasa yang digunakan tidaklah dapat difahami, kita tidak mengerti bahasa apa yang digunakan.

Inilah mantra-mantra yang tidak diperbolehkan oleh syariat, dan hendaknya kaum muslimin mewaspadai hal ini. Meskipun mereka menyatakan bahwa mantra-mantra yang mereka miliki sangat ampuh untuk mengobati berbagai macam penyakit. Apalagi di kemudian hari kita mengetahui bahwa kalimat-kalimat dalam mantra tersebut mengandung unsur permintaan tolong kepada setan, jin, atau wali, serta mengandung unsur pengagungan dan penyembahan kepada setan atau pelecehan terhadap Allah Ta’ala, pelecehan terhadap Al-Qur’an, atau kalimat-kalimat kekafiran. Inilah model ruqyah atau mantra yang telah diperingatkan oleh para ulama rahimahumullah di atas.

Bahkan terkadang kita jumpai model ruqyah yang menggunakan kumpulan huruf yang tidak bermakna atau kumpulan huruf yang terpotong-potong. Model ruqyah lainnya menggunakan lafadz-lafadz ruqyah yang mereka klaim terdapat pada sayap malaikat Jibril, atau tertulis pada pintu surga, atau kepercayaan-kepercayaan khurafat yang lainnya.

Praktik ruqyah yang lainnya adalah tipu daya yang dilakukan dengan menggunakan surat atau ayat Al-Qur’an, akan tetapi dengan membolak-balik ayatnya. Bagian awal dijadikan akhir, yang akhir dijadikan pertengahan, yang tengah dijadikan di awal, dan seterusnya. Mereka meyakini bahwa ayat dengan dimodel seperti ini memiliki kesaktian tertentu yang dapat menyembuhkan penyakit. Orang awam yang tidak memahami hal ini, dia akan menyangka bahwa dirinya sedang diruqyah dengan bacaan Al-Qur’an.

Kewaspadaan ini harus semakin ditingkatkan apabila mantra-mantra tersebut harus dibaca dengan melakukan suatu ritual tertentu, misalnya harus dibaca dengan mengunyah bawang merah. Bahkan harus dibaca dengan melakukan ritual penyembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah Ta’ala, nadzar kepada selain Allah Ta’ala, atau perbuatan syirik lainnya. Praktik ini seringkali dilakukan oleh tukang ruqyah yang juga seorang dukun atau paranormal yang melakukan pengkaburan kepada kaum muslimin dengan mengatasnamakan pengobatan alternatif atau yang semisalnya.

Termasuk juga melakukan ruqyah dengan ritual tertentu seperti membakar kemenyan, memakai minyak-minyak tertentu, dan ritual-ritual lainnya yang aneh. Hal ini hakikatnya adalah tipu daya semata agar peruqyah tersebut tampak hebat dan memiliki ilmu khusus, ilmu spesial yang tidak dimiliki oleh orang lain. Padahal, hakikat ruqyah adalah berdoa dengan membaca ayat suci Al-Qur’an atau doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (dan hal itu sudah cukup), dan hal ini bisa dilakukan oleh siapa saja. [Bersambung]

***

Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 15 Dzulqa’dah 1438/8 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply