Ruqyah vs. Operasi Caesar (03): Apakah Ruqyah Pasti Mujarab?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Apakah Ruqyah Pasti Mujarab?

Sebagaimana disebutkan di atas, hakikat pengobatan ruqyah adalah doa (kepada Allah Ta’ala). Tidak semua doa kita akan Allah Ta’ala kabulkan. Begitu pula dengan ruqyah. Oleh karena itu, kita hendaknya terus-menerus dan sungguh-sungguh dalam berdoa, karena tidak pernah tahu, pada doa kita yang mana yang akan Allah Ta’ala kabulkan. Tidak cukup hanya berdoa sekali, lalu yakin dan pasrah kepada Allah Ta’ala dengan bertawakkal kemudian pasti Allah kabulkan. Tidak demikian.

Allah Ta’ala memang menjamin akan memperkenankan (mengabulkan) doa orang-orang yang khusyuk berdoa kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan (doa) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min [Ghaafir] [40]: 60)

Namun, ternyata kadang doa kita tidak dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Hal ini karena bisa jadi kita tidak memenuhi syarat terkabulnya doa sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan di ayat lainnya,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhkan Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Hendaknya ayat ini menjadi renungan untuk kita semua. Jika Allah Ta’ala tidak mengabulkan doa kita, bisa jadi karena kita belum memenuhi syarat yang telah Allah Ta’ala tetapkan, yaitu senantiasa patuh terhadap perintah Allah dan beriman kepada-Nya. Misalnya, dengan menjauhi harta atau makanan yang haram. Memakan harta haram merupakan penghalang terbesar terkabulnya doa. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang lelaki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya menjadi kusut dan berdebu. Orang itu mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.’ Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan do’anya? (HR. Muslim)

Mengkombinasikan antara Ruqyah dengan Pengobatan Medis

Demikian juga dengan pengobatan ruqyah yang pada hakikatnya adalah doa. Mempercayai bahwa Al-Qur’an bisa menjadi obat penawar, baik untuk penyakit kejiwaan dan juga penyakit fisik, adalah bagian dari keimanan kita kepada ayat Al-Qur’an yang menyebutkan hal itu. Namun, apakah hal itu sudah cukup? Menempuh usaha (ikhtiar) tetap perlu diupayakan, misalnya dengan berobat ke rumah sakit. Karena kita tidak bisa memastikan pada perkara (usaha) yang mana keinginan kita akan dikabulkan, apakah melalui ikhtiar tersebut (berobat ke rumah sakit), ataukah melalui ruqyah.

Jika kita mempercayai ruqyah secara mutlak (tanpa ada kehendak dan takdir Allah Ta’ala), justru dikhawatirkan kita akan jatuh ke dalam kesyirikan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah tentang syarat-syarat ruqyah yang diperbolehkan dan telah kami sebutkan di seri sebelumnya. Oleh karena itu, efektif atau tidaknya ruqyah itu adalah hak Allah Ta’ala, bukan pada ruqyah itu sendiri. Dan hak Allah Ta’ala pula untuk menentukan, melalui jalan mana keinginan kita akan terwujud.

Beberapa waktu yang lalu, media sosial sempat heboh dengan tulisan seorang ustadz yang menolak keputusan operasi caesar yang dianjurkan dokter dan menyodorkan solusi ruqyah agar dapat mengupayakan persalinan secara normal (pervaginam) meskipun para dokter menganjurkan dilakukan tindakan secepatnya. Hal ini jelas merupakan kekeliruan dan tindakan berlebih-lebihan. Selain itu, juga berpotensi menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan. Hal ini karena terlambat melakukan tindakan operasi caesar atau tindakan operasi darurat lainnya, bisa jadi menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)

Ruqyah, sebagaimana tindakan operasi darurat, sama-sama merupakan sebab (jalan) untuk pengobatan. Kita tidak mengetahui, pada jalan yang mana, Allah Ta’ala akan kabulkan keinginan kita? Oleh karena itu, usaha paling maksimal yang dapat kita lakukan sebagai manusia adalah dengan melaksanakan dua-duanya, bukan dengan meninggalkan salah satunya. Dan menempuh keduanya, bukanlah suatu hal yang mustahil yang dilakukan. Bukankah dokter juga terkadang memberikan nasihat kepada pasiennya untuk memperbanyak doa kepada Allah Ta’ala ketika berobat kepadanya?

Ruqyah, sebagaimana metode thibb nabawi lainnya, tidak semata-mata menjadi mujarab hanya karena hubungan sebab-akibat (diruqyah dan pasti sembuh). Namun, ada unsur keimanan, ketakwaan, dan keyakinan kepada Allah Ta’ala. Jika ada teman kita yang tersengat kalajengking, kemudian kita bacakan surat Al-Fatihah, namun tidak sembuh, maka bukan salah ruqyahnya. Bukan pula karena sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut berdusta. Namun, bisa jadi dalam diri kita belum terpenuhi syarat-syarat terkabulnya doa, yaitu iman, amal shalih, dan juga hadirnya hati sepenuhnya ketika berdoa kepada Allah Ta’ala. Karena hati yang lalai dan berpaling ketika berdoa kepada Allah Ta’ala, merupakan salah satu penghalang terkabulnya doa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa doa tersebut akan dikabulkan. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah mengabulkan doa dari hati yang lalai dan berpaling.” (HR. Tirmidzi no. 3488 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/493. Dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 245.) [Bersambung]

***

Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 15 Dzulqa’dah 1438/8 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply