Ruqyah vs. Operasi Caesar (04): Hukum Operasi Caesar

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sebagaimana penjelasan di seri sebelumnya, jelaslah bahwa tidak ada pertentangan antara ruqyah syar’iyyah dengan tindakan (pengobatan) medis. Keduanya adalah sama-sama sebab kesembuhan, yang dapat ditempuh secara bersamaan, tanpa harus meninggalkan salah satunya. Dan demikianlah yang telah ditunjukkan dan dipraktikkan oleh para ulama kita.

Hukum Operasi Caesar: Dibolehkan jika Terdapat Kebutuhan Mendesak

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullahu Ta’ala mengatakan,

والولادة الطبيعية هي الأفضل للأم ، إلا أن هذا لا يمنع من استعمال العملية القيصرية إذا اقتضت الضرورة لذلك

“Melahirkan normal adalah yang paling utama (paling afdhal) bagi sang ibu. Namun, tidak mengapa melakukan operasi caesar jika terdapat kondisi dharurat yang menuntut hal itu.” [1]

Karena termasuk darurat, terlarang melakukan operasi caesar jika tidak terdapat kondisi medis yang sesuai. Termasuk di antaranya jika sang ibu ingin melahirkan anak di tanggal tertentu, tidak mau merasakan sakit, atau jika dokter ingin mendapatkan jasa lebih banyak dengan melakukan operasi. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafidzahullahu Ta’ala mengatakan,

ويتساهل كثير من الأطباء في اللجوء إلى العملية القيصرية ؛ طمعاً منهم في المال ، أو لعدم صبره على الأم أثناء الطلق للولادة الطبيعية ، كما أن بعض النساء تطلب هذه العملية للحفاظ على رشاقة جسدها ، أو للتخلص من آلام الولادة .
ولا شك أن في هذا الفعل تضييعاً لفوائد متعددة ، كما أنه قد يسبب آثاراً على الأم وولاداتها المستقبلية ، ومنه ما أشار إليه الأخ السائل .

“Banyak dokter [2] bermudah-mudah untuk melakukan operasi caesar, karena keinginan mendapatkan harta, atau karena tidak sabar menunggu ibu untuk melahirkan normal. Sebagaimana sebagian wanita meminta operasi untuk menjaga kondisi tubuhnya, atau supaya tidak merasakan sakit melahirkan.

Tidak kita ragukan lagi bahwa perbuatan semacam ini menghilangkan faidah yang banyak (dari melahirkan secara normal). Sebagaimana hal ini juga bisa berpengaruh terhadap ibu dan anaknya di masa mendatang.” [3]

Tidak Ada Pertentangan antara Pengobatan Medis dengan Ruqyah Syar’iyyah

Menurut kami, yang terbaik adalah dengan menggabungkan antara ruqyah syar’iyyah dengan pengobatan medis (dalam hal ini operasi caesar) jika memang dibutuhkan. Karena kedua hal ini tidaklah bertentangan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

أرى أن يجمع الإنسان بين هذا وهذا ولا منافاة بأن يجمع بين الرقية الشرعية وكذلك الأدوية الحسية ولا مانع

“Saya berpendapat hendaknya manusia menggabungkan antara ini (ruqyah syar’iyyah, pen.) dan ini (pengobatan fisik, pen.). Tidak ada pertentangan dan penghalang dalam menggabungkan ruqyah syar’iyyah dan obat-obatan fisik.” (Al-Irsyad li Thabiibil Muslim, 1/14)

Beliau rahimahullah juga berkata,

الأمراض النفسية كثيراً ما تستعصي على الأطباء إذا عالجوها بالأدوية الحسية، ولكن دواؤها بالرقية ناجع ومفيد ، وكذلك الأمراض العقلية، تنفع فيها الأدوية الشريعة وقد لا تنفع فيها الأدوية الحسية، لذلك أريد منكم أيها الأخوة أن تلاحظوا هذا وإذا أمكنكم أن تجمعوا بين الدواءين فهو خير، أي الحسي والشرعي، حتى تصرفوا قلوب المرضى إلى التعلق بالله عزوجل وآياته، وحينئذ أحيلكم إلى الكتب المؤلفة في هذا الشأن، أن تطالعوها وتحفظوها وترشدوا إليها المرضى، لأن تعلق المريض بالله عز وجل له أثر قوي في إزالة المرض أو تخفيف المرض.

“Penyakit kejiwaan itu banyak, yang tidak mampu diobati oleh para dokter dengan pengobatan fisik. Akan tetapi, pengobatan dengan ruqyah akan berhasil dan bermanfaat. Begitu juga penyakit akal, terkadang pengobatan syar’i akan bermanfaat, namun pengobatan fisik tidak mendatangkan manfaat.

Oleh karena itu, aku menginginkan kalian saudara-saudaraku (para dokter) untuk memperhatikan hal ini. Dan jika memungkinkan bagi kalian untuk menggabungkan kedua jenis pengobatan ini, tentu lebih baik, yaitu pengobatan fisik dan pengobatan syar’i. Sehingga hal ini akan mendorong kalian untuk mempelajari buku-buku yang membahas metode tersebut, menelaah, menghapal dan memberikan bimbingan orang sakit dengannya. Bergantungnya hati orang sakit kepada Allah Ta’ala memiliki pengaruh yang kuat untuk menghilangkan atau meringankan penyakit.” (Al-Irsyad li Thabiibil Muslim, 1/14)

Demikianlah pembahasan ini, semoga Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita semua. [4] [Selesai]

***

Disempurnakan di pagi hari, Rotterdam NL 15 Dzulqa’dah 1438/8 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] https://islamqa.info/ar/92831

[2] Di sini syaikh menyebutkan kata “banyak dokter”. Kami tidak menafikan adanya tindakan oknum dokter yang melakukan operasi tanpa ada indikasi medis. Akan tetapi, yang kami ketahui, kasus semacam ini sangatlah sedikit. Wallahu a’alam.

[3] https://islamqa.info/ar/92831

[4] Sebagian tulisan serial ini kami angkat dari buku penulis, Ke Mana Seharusnya Anda Berobat? Antara Pengobatan Medis, Alternatif dan Thibb Nabawi”, penerbit Wacana Ilmiah Press Surakarta, tahun 2009.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

1 Comment

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.