Sakit Gigi : Sebuah Nyeri Odontogenik

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Apa itu Nyeri Odontogenik?

Nyeri odontogenik adalah nyeri yang berasal dari pulpa gigi atau jaringan periodonsium. Nyeri periodonsium merupakan nyeri dalam somatik.Penyebab nyeri ini bervariasi, antara lain inflamasi atau trauma oklusi, impaksi gigi, akibat tindakan profilaksis, perawatan endodonsia, ortodonsia, preparasi mahkota, kontur gigi yang tidak tepat, atau trauma pembedahan.
Dapat pula disebabkan penyebaran inflamasi pulpa melalui foramen apikalis. Pada tindakan odontektomi, kedalaman anestesi dapat pula dipengaruhi oleh jenis pembedahan, lama pembedahan, obat anestesi, faktor psikologis, serta inflamasi.

Bagaimana Nyeri itu dapat terjadi?

Proses rangsangan yang menimbulkan nyeri bersifat destruktif terhadap jaringan yang dilengkapi dengan serabut saraf penghantar impuls nyeri. Serabut saraf ini disebut juga serabut nyeri, sedangkan jaringan tersebut disebut jaringan pekanyeri.
Bagaimana seseorang menghayati nyeri tergantung pada jenis jaringan yang dirangsang, jenis serta sifat rangsangan, serta pada kondisi mental dan fisiknya. Reseptor untuk stimulus nyeri disebut nosiseptor. Nosiseptor adalah ujung saraf tidak bermielin A delta dan ujung saraf C bermielin. Distribusi nosiseptor bervariasi di seluruh tubuh dengan jumlah terbesar terdapat di kulit.

Nosiseptor terletak di jaringan subkutis, otot rangka, dan sendi. Nosiseptor yang terangsang oleh stimulus yang potensial dapat menimbulkan kerusakan jaringan. Stimulus ini disebut sebagai stimulus noksius. Selanjutnya stimulus noksius ditransmisikan ke sistem syaraf pusat, yang kemudian menimbulkan emosi dan perasaan tidak menyenanggan sehingga timbul rasa nyeri dan reaksi menghindar.


Apa saja Proses dalam Nyeri?

Antara stimulus cedera jaringan dan pengalaman subjektif terdapat empat proses tersendiri: transduksi, transmisi, modulasi, dan persepsi.
a. Proses transduksi
Transduksi nyeri adalah rangsang nyeri (noksius) diubah menjadi depolarisasi membran reseptor yang kemudian menjadi impuls saraf reseptor nyeri. Rangsangan ini dapat berupa rangsang fisik (tekanan), suhu (panas), atau kimia.
Adanya rangsang noksius ini menyebabkan pelepasan asam amino eksitasi glutamat pada saraf afferent nosisepsi terminal menempati reseptor AMPA (alpha-amino-3-hydroxy-5- methyl-D-aspartate), akibat penempatan pada reseptor menyebabkan ion Mg2+ pada saluran Ca2+ terlepas masuk ke dalam sel, demikian juga ion Ca2+, K+, dan H+.
Terjadi aktivasi protein kinase c dan menghasilkan NO yang akan memicu pelepasan substansi p dan terjadi hipersensitisasi pada membran kornu dorsalis. Kerusakan jaringan karena trauma, dalam hal ini odontektomi, menyebabkan dikeluarkannya berbagai senyawa biokimiawi antara lain: ion H, K, prostalglandin dari sel yang rusak, bradikinin dari plasma, histamin dari sel mast, serotonin dari trombosit dan substansi P dari ujung saraf. Senyawa biokimiawi ini berfungsi sebagai mediator yang menyebabkan perubahan potensial nosiseptor sehingga terjadi arus
elektrobiokimiawi sepanjang akson.
Kemudian terjadi perubahan patofisiologis karena mediator-mediator ini mempengaruhi juga nosiseptor di luar daerah trauma sehingga lingkaran nyeri meluas. Selanjutnya terjadi proses sensitisasi perifer yaitu menurunnya nilai ambang rangsang nosiseptor karena pengaruh mediator-mediator tersebut di atas dan penurunan pH jaringan.
Akibatnya nyeri dapat timbul karena rangsang yang sebelumnya tidak menimbulkan nyeri misalnya rabaan. Sensitisasi perifer ini mengakibatkan pula terjadinya sensitisasi sentral yaitu hipereksitabilitas neuron pada korda spinalis, terpengaruhnya neuron simpatis, dan perubahan intraselular yang menyebabkan nyeri dirasakan lebih lama.

b. Proses Transmisi
Transmisi adalah proses penerusan impuls nyeri dari nosiseptor saraf perifer melewati kornu dorsalis menuju korteks serebri. Saraf sensoris perifer yang melanjutkan rangsang ke terminal di medula spinalis disebut neuron aferen primer.
Jaringan saraf yang naik dari medula spinalis ke batang otak dan talamus disebut neuron penerima kedua. Neuron yang menghubungkan dari talamus ke korteks serebri disebut neuron penerima ketiga.


c. Proses Modulasi
Proses modulasi adalah proses dimana terjadi interaksi antara sistem analgesi endogen yang dihasilkan oleh tubuh dengan impuls nyeri yang masuk ke kornu posterior medula spinalis. Sistem analgesi endogen ini meliputi enkefalin, endorfin, serotonin, dan noradrenalin memiliki efek yang dapat menekan inpuls nyeri pada kornu posterior medula spinaslis. Proses modulasi ini dapat dihambat oleh golongan opioid.


b. Proses Persepsi
Proses persepsi merupakan hasil akhir proses interaksi yang kompleks dan unik yang dimulai dari proses transduksi, transmisi, dan modulasi yang pada gilirannya menghasilkan suatu perasaan yang subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.

Penyusun oleh : dr. M. Wiwid Santiko
Share.

About Author

Medical, Research and Qur’an.
Alumni Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Semoga Anda mendapat manfaat dari Tulisan dan Website ini.

Mengakar kuat, Menjulang Tinggi.

Leave A Reply