Sejarah Perdukunan Dalam Pandangan Islam

sejarah

Dukun di zaman ini khususnya di negeri Indonesia bagi sebagian orang dianggap biasa. Orang-orang sudah bisa datang kepada mereka mengadukan berbagai permasalahan dan meminta tolong. Baik masalah pribadi, masalah cinta, masalah harta sampai masalah barang hilang. Bahkan para dukun diberi julukan yang hebat seperti orang pintar, pak haji pak kiayi, romo dan lain-lain. Berikut bagaimana sejarah perdukunan dalam pandangan Islam dan akan terlihat bahwa perdukunan memang suatu hal yang dilarang keras dan tidak ada manfaat sama sekali.

Perngertian dukun

Di zaman dahulu masyarakat Arab mengenal beberapa istilah berkaitan dengan dukun yang intinya seputar  praktik sihir, ramal, dan perdukunan. beberapa istilah tersebut:
1. Kahin
ialah orang yang mengklaim bisa mengabarkan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ada pendapat lain bahwa mereka adalah orang yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati.

2. ‘Arraf
ialah orang yang mengaku-ngaku mengetahui urusan-urusan tertentu melalui cara-cara tertentu, misalnya barang hilang dengan ciri-crir tertentu dan tempat tertentu

3. Rammal
ialah orang yang meramal dengan cara menggaris-garis di pasir untuk meramal sesuatu
4. Munajjim (ahli ilmu nujum)
mirip dengan astrologi (ilmu perbintangan). Yaitu orang yang meramal dengan menggunakan ilmu perbintangan. Biasanya yang diramal
5. Sahir (tukang sihir)
yaitu penyihir dengan berbagia macam sihir. Mulai dari sihir cinta, sihir benci sampai sihir yang menyebabkan kematian.
Semua istilah ini pada umumnya sama yaitu berkaitan dengan mengetahui hal ghaib, ramalan kejadian, ramalan nasib, mengetahui barang hilang dan sekaligus sihir. Semua umumnya “satu paket”. Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Al-‘Arraf, adalah sebutan bagi kahin, munajjim, dan rammaal, serta yang sejenis dengan mereka, yang berbicara dalam hal mengetahui perkara-perkara semacam itu dengan cara-cara semacam ini.”

Di zaman ini juga berbagai istilah bagi para dukun dan tukang sihir mulai dari istilah yang butuk, seram sampai istilah yang dihias-hias dengan kebaikan. Misalnya paranormal, orang pintar, orang tua, spiritualis, ahli metafisika, kyai, romo, ki joko dan lain-lain

 

Begitu juga dengan ilmunya, diistilahkan macam-macam.misalnya horoskop, zodiak, astrologi, ilmu nujum, ilmu spiritual, metafisika, supranatural, ilmu hitam, ilmu putih, sihir, hipnotis dan ilmu sugesti, feng shui, geomanci, berkedok pengobatan alternatif atau bahkan pengobatan Islami. Apapun namanya pada hakikatnya sama dan dilarang dalam Islam

 

Dukun ada sihir dilarang keras dalam Islam

Dukun dan sihir sangat dilarang keras dalam Islam karena ini adalah praktek kesyirikan dengan menggunakan setan sebagai penolong dan relasi. Dan sebagai kompensasi, setan meminta manusia melakukan perbuatan syirik yang bisa membatalkan keimanannya dan mengeluarkannya dari agama Islam.

 

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda

“مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ؛ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً”

 

Barangsiapa mendatangi peramal, lalu ia bertanya tentang sesuatu padanya; maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.” (H.R. Muslim)

 

Bahkan ada ancaman yang lebih keras lagi, yaitu hadits,

“مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ سَاحِراً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ؛ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”.

 

Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya; maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.” (H.R. Al-Bazzar, shahih)

 

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Setan tidak mungkin membantu para tukang sihir dalam hal itu, kecuali setelah mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syariat, sebagai bentuk kompensasi bantuan tersebut.” (Al-Furqân hal. 331-332)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Semakin perbuatan yang dipersembahkan kufur atau syirik, maka bantuan yang diberikan setan semakin besar.” (At-Tafsîr al-Qayyim hal. 581)

Keadaaan perdukunan sebelum diutus Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam

Sebelum Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam diutus setan sering mencuri berita dari langit yaitu apa yang menjadi perbincangan para malaikat mengenai masa depan. Kemudian setan memberitahu kepada dukun dan tukang sihir yang menjadi patnernya. Sehingga dukun dan tukang sihir sebelum diutusnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lebih hebat dan banyak ramalan yang tepat.

 

Hal ini digambarkan dalam firman Allah Ta’ala,

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنزلُ الشَّيَاطِينُ، تَنزلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ، يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

Apakah akan Aku beritakan kepada kalian, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi banyak berbuat jahat/buruk (para dukun dan tukang sihir). Syaitan-syaitan tersebut menyampaikan berita yang mereka dengar (dengan mencuri berita dari langit, kepada para dukun dan tukang sihir), dan kebanyakan mereka adalah para pendusta” (asy-Syu’araa’:221-223).
Akan tetapi setelah nabi shallallahu ’alaihi wa sallam diutus, setan tidak leluasa lagi mencuri berita dari langit karena ada panah api yang menjaga dan mengarah kepada para setan ketika akan mencuri berita dari langit. Sehingga para setan mati sebelum memberitahu berita tersebut kepada dukun yang menjadi patnernya. Akan tetapi terkadang ada dari mereka yang lolos kemudian memberitahukan patnernya. Yang menjadi masalah adalah para setan tersebut menambahkan berita tadi dengan seratus kebohongan, dan inilah yang sampai kepada orang yang meminta ramalan dari dukun.

 

Kisahnya terdapat dalam hadits berikut,

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ –وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

“Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah Subhanahu wa ta’ala seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain –Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya–. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka dijumpai oleh bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum dijumpai oleh bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari )

 

Setelah mengetahui sejarah perdukunan handaknya kita tidak percaya kepada dukun. Bahkan hal ini perlu diingkari dan diberantas.hanya Allah yang mengetahui hal gahib dan beberapa mahluk yang sudah diberitahu oleh Allah. Allah Ta’ala berfirman,

 

“قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّه”

 “Katakanlah (wahai Muhammad), “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65).

 

Bahaya perdukunan (dalam pengobatan)

Setelah kita mengetahui bagaimana bahaya perdukunan dan shihir. Hendaknya kita juga tidak melakukan pengobatan dengan menggunakan praktek perdukunan dan kesyirikan. Karena terkadang tidak masuk akal dan biasanya menggunakan bantuan setan. Itu juga belum tentu sembuh. Hendaknya kita menempuh cara syar’i dan cara pengobatan yang sudah diakui dan sudah terbukti.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

“تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ؛ الْهَرَمُ”

 

Berobatlah! Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua.” (HR. Abu Dawud, shahih)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata,

“Satu hal yang dapat memotivasi kita untuk terus berusaha mencari kesembuhan adalah jaminan dari Allah Ta’ala bahwa seluruh jenis penyakit yang menimpa seorang hamba pasti ada obatnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut” (HR. Bukhari). Hadits ini menunjukkan bahwa seluruh jenis penyakit, memiliki obat yang dapat digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, atau untuk meringankan penyakit tersebut. Hadits ini juga mengandung dorongan untuk mempelajari pengobatan penyakit-penyakit badan sebagaimana kita juga mempelajari obat untuk penyakit-penyakit hati. Karena Allah telah menjelaskan kepada kita bahwa seluruh penyakit memiliki obat, maka hendaknya kita berusaha mempelajarinya dan kemudian mempraktekkannya”. (Bahjatul Quluubil Abraar hal. 174-175)

 

Demikian semoga bermanfaat.

 

Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.kesehatanmuslim.com

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

About Author

dr. Raehanul Bahraen

alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh pendidikan spesialis patologi klinik di FK UGM

View all posts by dr. Raehanul Bahraen »

One Comment

  1. mksh bnyk infonya… memang ini info yg sy cari selama ini. di zaman ini beda tipis antara halal dan haram. salam sukses…

Leave a Reply