Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya – Bagian Ke dua

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

 Terkadang obat suatu penyakit sudah diketahui, kita pun sudah menggunakan obat tersebut sebagai usaha mencari kesembuhan, namun mengapa obat tersebut tidak manjur?

Apakah Syarat agar Suatu Obat Menjadi Manjur?

Ketika menjelaskan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاء ، فَإِذَا أُصِيب دَوَاء الدَّاء بَرِئَ بِإِذْنِ اللَّه

”Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan izin Allah Ta’ala.” [1]

dan juga hadits-hadits yang semisal dengan hadits tersebut, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

“Di dalam hadits-hadits tersebut terkandung penetapan adanya hukum sebab-akibat dan tidak benarnya pendapat orang-orang yang mengingkarinya. Perkataan beliau shallallahu alaihi wa sallam, “Untuk setiap penyakit ada obatnya” bisa kita maknai sesuai dengan keumumannya, meskipun penyakit tersebut bisa menyebabkan kematian atau belum mampu disembuhkan oleh dokter. Allah Ta’ala telah menjadikan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut, akan tetapi belum diketahui oleh manusia dan tidak ada jalan bagi manusia untuk mengetahuinya. Karena tidak ada ilmu bagi makhluk kecuali apa yang Allah Ta’ala ajarkan kepada mereka.

Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengaitkan kesembuhan dengan kesesuaian (kecocokan) antara obat dan suatu penyakit. Karena tidak ada satu makhluk pun kecuali memiliki lawannya. Setiap penyakit memiliki lawan, yaitu obat yang dapat menyembuhkannya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengaitkan kesembuhan dengan kesesuaian (kecocokan) antara obat dan suatu penyakit. Ini adalah nilai (syarat) tambahan, tidak hanya sekedar tersedia atau tidaknya suatu obat. Jika suatu obat melebihi derajat penyakit, baik dalam hal tata cara penggunaan, atau dalam hal jumlah (dosis) yang melebihi (dosis) seharusnya, maka obat tersebut akan menjadi penyakit baru. Jika suatu obat lebih sedikit dari yang dibutuhkan, maka tidak akan cukup untuk melawan penyakit, sehingga tidak sembuh sempurna. Jika seorang dokter tidak tepat dalam memilih obat, atau obat yang digunakan tidak tepat sasaran, maka tidak akan sembuh. Jika waktu pengobatan tidak tepat, obat tersebut tidak akan bermanfaat. Jika badan pasien tidak bisa menerima obat tersebut, atau kondisi fisiknya lemah, atau terdapat penghalang yang mencegah obat tersebut bekerja, maka tidak akan sembuh karena tidak adanya kesesuaian. Jika terdapat kesesuaian dalam seluruh aspek-aspek tersebut, maka pasti terwujudlah kesembuhan dengan izin Allah Ta’ala. Inilah penjelasan terbaik untuk hadits di atas.” [2]

Berdasarkan penjelasan Ibnu Qoyyim di atas, kita dapati adanya kesesuaian perkataan beliau dengan apa yang kita pelajari dalam ilmu kedokteran medis. Suatu obat baru akan manjur jika terpenuhi beberapa syarat berikut ini:

  1. Adanya ketepatan dalam memilih obat sesuai dengan jenis penyakitnya. Oleh karena itu, sebelum memilih obat secara tepat, seorang dokter harus mampu mendiagnosis penyakit dengan tepat.
  2. Adanya ketepatan dalam menentukan dosis obat yang dibutuhkan, tidak boleh lebih banyak atau lebih sedikit dari dosis yang dibutuhkan.
  3. Adanya ketepatan dalam tata cara penggunaan obat. Misalnya, apakah suatu obat diberikan melalui oral (ditelan), injeksi (disuntik), atau tata cara pemberian obat lainnya.
  4. Adanya ketepatan dalam waktu pengobatan. Misalnya, apakah suatu obat harus diberikan sebelum atau sesudah makan.
  5. Tidak terdapat kontra-indikasi penggunaan obat tersebut bagi pasien tertentu. Adanya kondisi medis tertentu, mungkin menyebabkan suatu obat tidak boleh diberikan untuk pasien tersebut.
  6. Tidak terdapat penghalang lain yang dapat menghambat kerja obat. Misalnya, dalam waktu bersamaan pasien juga meminum obat lain yang ternyata dapat menghambat kerja obat tersebut.

Semoga tulisan ini dapat memotivasi kita untuk bersemangat mencari kesembuhan dari setiap penyakit yang kita alami. Dan juga semoga dapat memotivasi dokter dan tenaga kesehatan lainnya, untuk tetap termotivasi meneliti obat untuk setiap penyakit. [Selesai]

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

 

Referensi:

 

[1] HR. Muslim.

[2] Zaadul Ma’aad, 4/13, karya Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, tahqiq: Syu’aib Al Arnauth dan ‘Abdul Qodir Al Arnauth, Muassasah Arrisalah, cetakan pertama, th. 1428 H.

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

 

 

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.