Setiap Penyakit Pasti Ada Obatnya – Bagian Pertama

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Kadang kita jumpai beberapa pasien yang tampaknya putus asa ketika penyakit yang diderita tidak kunjung sembuh. Apalagi setelah menghabiskan waktu, tenaga, dan uang dalam jumlah yang tidak sedikit. Usahanya selama ini seolah-olah sia-sia, kesembuhan yang diharapkan belum datang juga.

Satu hal yang dapat memotivasi kita untuk terus berusaha dan berusaha mencari kesembuhan adalah adanya jaminan dari Allah Ta’ala bahwa seluruh jenis penyakit yang menimpa seseorang di dunia ini pasti ada obat yang dapat menyembuhkannya. Hal ini telah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sabda beliau,

مَا أَنْزَلَ اللَّه دَاء إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاء

”Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan akan menurunkan pula obat untuk penyakit tersebut.” [1]

Hadits ini menunjukkan bahwa seluruh jenis penyakit yang menimpa seseorang, pasti memiliki obat yang dapat digunakan untuk mencegah, menyembuhkan, atau paling tidak untuk meringankan penyakit tersebut. Hadits ini juga mengandung dorongan dan motivasi kepada kita untuk mempelajari pengobatan penyakit-penyakit tersebut. Karena Allah telah menjelaskan kepada kita bahwa seluruh jenis penyakit memiliki obat, sehingga kita hendaknya berusaha mempelajarinya dan kemudian mempraktekkannya. [2]

Selain itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاء ، فَإِذَا أُصِيب دَوَاء الدَّاء بَرِئَ بِإِذْنِ اللَّه

”Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya, penyakit tersebut akan sembuh dengan izin Allah Ta’ala.” [3]

Maksud hadits tersebut adalah, apabila seseorang diberi obat yang sesuai dengan penyakit yang dideritanya, dan waktunya sesuai dengan yang ditentukan oleh Allah, maka dengan izin-Nya orang sakit tersebut akan sembuh. Dan Allah Ta’ala akan mengajarkan pengobatan tersebut kepada siapa saja yang Dia kehendaki sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam,

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً ، إِلاَّ قَدْ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً ، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ.

”Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya. Ada yang tahu, dan ada juga yang tidak tahu.” [4]

Ungkapan Rasulullah,”Untuk setiap penyakit ada obatnya” memberikan penguatan jiwa kepada orang sakit dan juga dokter yang merawatnya. Dan juga memberikan dorongan untuk mencari obat dan mempelajarinya. Karena kalau orang sakit meyakini bahwa ada obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya, maka terbukalah pintu-pintu harapan baginya dan hilanglah keputus-asaan dari dalam dirinya. Ketika semangat seperti itu sudah meningkat, maka daya tahan yang mendukung tubuhnya juga akan meningkat sehingga mampu mengatasi, bahkan menolak penyakit. Demikian juga bagi si dokter sendiri, kalau ia sudah meyakini bahwa setiap penyakit ada obatnya, maka ia juga terus mencari obat dari suatu penyakit dan akan terus melakukan penelitian. [5]

Berdasarkan penjelasan Rasulullah dalam hadits di atas, maka apabila saat ini tidak ada obat yang mampu menyembuhkan suatu penyakit, bukan berarti bahwa penyakit tersebut tidak ada obatnya. Akan tetapi, hal itu terjadi karena ilmu pengetahuan manusia yang belum mampu untuk menemukan dan mengungkap obat dari penyakit tersebut. Karena memang demikianlah ilmu manusia, secanggih apa pun ilmu kedoteran modern saat ini, hal itu sangat amat kecil dibandingkan dengan ilmu Allah Ta’ala yang sangat luas dan meliputi segala sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al Isra’ [17]: 85) [6] [Bersambung]

 

[dr. M. Saifudin Hakim, MSc]

Artikel www.kesehatanmuslim.com

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

 

 

Referensi:

 

[1] HR. Bukhari.

[2] Lihat Bahjatu Quluubil Abraar,  hal. 174-175, karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

[3] HR. Muslim.

[4]  HR. Ahmad. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 451 (Maktabah Syamilah). Lihat Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’,  hal. 5-6, karya Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.

[5] Lihat Zaadul Ma’aad,  4/12-13, karya Ibnu Qoyyim Al Jauziyah.

[6]  Dikutip dengan sedikit perubahan dari buku penulis berjudul, “Ke mana Seharusnya Anda Berobat? Antara Pengobatan Medis, Alternatif, dan Thibb Nabawi”, Wacana Ilmiah Press, Surakarta, tahun 2009.

 

 

 

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.