Shifting hypothesis, Senjata Utama Kelompok Antivaks

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Salah satu ciri khas gerakan anti-vaksin adalah shifting hypothesis (perubahan hipotesis atau dugaan). Penggiat anti-vaksin seringkali membuat pernyataan yang hanya berdasar dugaan atau prasangka (hipotesis) untuk menunjukkan bahaya vaksin. Ketika dugaan atau prasangka mereka tersebut tidak sesuai dengan fakta ilmiah, mereka pun kemudian menyebutkan dugaan atau prasangka yang lainnya (shifting). Dan demikian seterusnya.

Contoh shifting hypothesis oleh penggiat anti-vaksin luar negeri

Contoh, penggiat anti-vaksin menyebutkan bahwa vaksin MMR (measles, mumps dan rubella) menyebabkan autisme dan mereka pun menyebarkan isu tersebut. Ketika dugaan mereka ini terbukti tidak benar berdasarkan berbagai fakta penelitian, mereka pun berpindah dengan menyebutkan bahwa timerosal atau etil-merkuri (salah satu komponen vaksin, bukan vaksin secara keseluruhan) sebagai penyebab autisme.

Autisme pun mereka beri label sebagai penyakit “keracunan merkuri” (mercury poisoning), sebagaimana pernyataan Sallie Bernard[1] Isu ini pun menyebar ke masyarakat dan mencemaskan mereka. Untuk mendukung gagasan dan tuduhan mereka tersebut, mereka pun membuat-buat alasan penguat, di antaranya dengan menyebutkan gejala akut keracunan merkuri.

Ketika dugaan mereka tidak terbukti, mereka pun beralih lagi menyalahkan aluminium, komponen yang digunakan sebagai ajuvan dalam vaksin. Lalu, mereka pun beralih lagi dengan menyebut slogan “too many, too soon” (terlalu banyak vaksin yang diberikan terlalu dini pada anak menimbulkan berbagai penyakit). Dan lagi-lagi, slogan mereka pun tidak terbukti secara ilmiah. Intinya, mereka selalu mencari “pembenaran”, kemudian disebar ke masyarakat, “pokoknya saya anti-vaksin”, begitulah ciri khas mereka. Jika satu alasan terbantahkan berdasarkan fakta ilmiah, mereka akan mencari alasan-alasan lainnya. [2]

Contoh shifting hypothesis oleh penggiat anti-vaksin di Indonesia

Di Indonesia, kita bisa melihat praktek nyata dari shifting hypothesis. Penggiat anti-vaksin menuntut ada sertifikat halal (SH) untuk setiap merk vaksin. Kemudian, ketika vaksin meningitis sudah mendapatkan SH dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), tetap saja mereka menolak vaksin. Sehingga mereka tetap mencari cara untuk berangkat haji dan umrah dengan membuat sertifikat vaksin meningitis palsu. Praktek semacam ini bisa kita temui sampai sekarang ini.

Tuntutan pun semakin aneh, dengan adanya tuntutan “sertifikat thayyib” karena -menurut mereka- yang disyaratkan adalah halal dan thayyib, sehingga SH saja tidak cukup. Suatu tuntutan yang sangat mengada-ada.

Mereka menyuarakan vaksin yang bebas dari sumber-sumber babi. Ketika kita jelaskan, bahwa sudah ada vaksin yang diproduksi dengan teknologi DNA rekombinan -sehingga tidak lagi memakai bahan bersumber dari hewan- (misalnya, vaksin hepatitis B), tetap saja mereka menolaknya. Meskipun kita jelaskan, bahwa vaksin yang bersinggungan dengan enzim tripsin hanya tinggal vaksin polio OPV (selain itu tidak), tetap saja mereka menolak vaksin OPV dan vaksin-vaksin lainnya. Memang, mencari-cari alasan pembenaran adalah satu hal yang sangat mudah.

Yang penting, saya “anti-vaksin”, alasan bisa saya cari-cari. Begitulah prinsip mereka yang sangat keras menentang vaksinasi. Adapun mereka yang masih bingung dan bimbang, karena termakan berbagai macam isu antivaks, kemungkinan besar masih ada kesempatan bagi kita (tenaga medis) untuk memberikan penjelasan yang memahamkan mereka. [3]

 

***

Selesai disusun setelah subuh, Rotterdam NL 5 Dzulhijjah 1438/28 Agustus 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Bernard S et al. Autism: a novel form of mercury poisoning. Med Hypotheses 2001; 56(4): 462-471.

[2]  Kata A. Anti-vaccine activists, Web 2.0, and the postmodern paradigm – An overview of tactics and tropes used online by the anti-vaccination movement. Vaccine 2012; 30: 3778-3789.

[3] Disarikan dari buku penulis, “Islam, Sains dan Kesehatan” (hal. 196-197) dengan beberapa penambahan.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply