Sudah Tahukah Jenis Vaksin Polio?

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Vaksin polio disebut juga wild virus. Dimana virus polio dapat menyebabkan paralityc polio. Polio juga dapat disebabkan karena vaksinnya, kejadian yang dapat ditemukan adalah :

  • Vaksin-induced paralityc polio (VAPP)
    Vaksin yang dilemahkan dapat berupa oral polio vaccine (OPV), pemberian vaksin ini dapat beresiko  menyebabkan terserang polio. Tetapi kejadiannya jarang.
  • Vaksin-derived polioviruses (VDPVs)
    Kejadiannya sangat jarang, tetapi pada prinsipnya strain dari poliovirus pada OPV secara genetic berubah, dan dapat bermanifestasi menyebabkan paralisis pada populasi tertentu. Kejadian kedua sangatlah jarang, padahal vaksin polio ini diperlukan seseorang untuk mencegah terjadinya lumpuh (kejadian polio-poiomyelitis). Sedangkan untuk bentuk sediaan jenis vaksin polio diantaranya :
  • Oral polio vaksin (OPV)
    Vaksin OPV memiliki nama lain sabin vaksin. Isinya adalah strain poliovirus 1-3 yang dilemahkan. Beberapa keuntungan vaksin ini adalah :
  1. Murah, dan di berikan secara oral (lewat mulut)
  2. Dapat menginisiasi pembentukan antibody pada usus, dan mengurangi infeksi polio dan mengurangi transmisi wild virus polioSedangkan untuk kekurangannya ialah : beresiko kecil terjadi serangan polio tipe vaccine-related polio (VAPP dan VDPV) seperti penjelasan di atas. Tetapi kejadian diatas hanya dapat terjadi pada seseorang dengan imunitas turun (Immunocompromaise).
  • Inactivated polio Vaccine (IPV)
    Disebut juga dengan salk vaccine. Yang berisi strain poliovirus 1-3 yang sudah terinaktifasi. Keuntungannya adalah tidak beresiko vaccine-related polio, sedangkan kerugiannya adalah : tidak menstimulasi antibody pada usus, sehingga tidakcukup efektif untuk wild virus polio. Kerugian lain adalah, hanya proteksi kepada seseorang, berbeda yang OPV yang dapat proteksi ke komunitas.

Penyimpanan vaksin ini pada suhi 2-8oC, dimana terlindung dari cahaya dan tidakboleh membeku. Untuk pemberiannya diberikan 5 dosis, ada beberapa kriteria, diantaranya :

  • Anak dengan usia 2bulan-10 tahun
  • Pada anak >3 tahun, harus tidak boleh dengan komponen hemophilus pada vaksinnya, yang boleh adalah diphtheria/tetanus/pertusis /polio/Hib vaccine
  • Pada bulan pertama diberikan 3 dosis, dan biasanya dimulai pada usia 2 bulan.
  • Booster pertama diberikan 3 tahun setelah pemberian pertama, setelah 3 tahun pemberiannya dilanjutkan dengan interval 1 tahun.
  • Anak dengan usia >10 tahun-dewasa
  • IPV diberikan dengan bentuk diphtheria, tetanus, pertussis, polio vaksin tanpa komponen haemophilus
  • Dosis pada bulan pertama adalah 3 dosis
  • Boster diberikan pada tahun ketiga setelah pemberiaan yang pertama, bila pemberian pertama tertunda, maka interal menjadi 1 tahun.
  • Boster ke dua diberikan 10 tahun kemudian setelah booster pertama, biasanya diberikan pada usia belasan. Bila booster pertama terlambat, maka pemberiaan booster kedua haruslah selisih 5 tahun.

Adapun beberapa Contraindikasi (hal yang harus dihindari sebelum memberikan vaksin dan pemberian vaksin menjadi tidak boleh), seperti :

  • Adanya reaksi anafilaksis pada pemberian IPV vaccine sebelumnya
  • Ada reaksi anafilaksis terhadap neomycin, streptomycin dan polumyxin B

Jika ditemukan demikian, segera konsultasi kepada pediatric dan ahli penyakit infeksi, dan tunggu dipilihkan alternative imunisasinya.
Dalam pemberian vaksin ini, dapat pula ditemukan efek samping. Seperti :

  • Nyeri, kulit memerah, dan terjadi pembengkakan.
  • Adanya nodul pada area injeksi

Ada anaphilaksis (tetapi jarang terjadi), secara epidemiologi 0,65-3 juta kejadian saja).

Penulis : dr. M. Wiwid Santiko

Share.

About Author

Medical, Research and Qur'an. Alumni Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Semoga Anda mendapat manfaat dari Tulisan dan Website ini. Mengakar kuat, Menjulang Tinggi.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.