Tahap-Tahap Pembuktian Khasiat Suatu Bahan sebagai Obat (01)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Pentingnya Pengujian Khasiat suatu Bahan sebagai Obat

Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa tahap yang harus ditempuh oleh suatu bahan atau “calon” obat baru sehingga bahan tersebut diterima sebagai sebuah obat yang nantinya akan diresepkan oleh dokter. Tahap-tahap ini harus dilalui untuk menguji efikasi (kemanjuran) atau efektivitas suatu obat, sekaligus untuk melihat efek samping yang muncul dalam tubuh, berapa dosis yang tepat untuk tiap-tiap umur dan berat badan, dan pada kadar berapa bahan tersebut justru menimbulkan toksisitas (efek merugikan bagi tubuh). Inilah yang dikenal sebagai dasar pengobatan kedokteran saat ini, yaitu evidence-based medicine (ilmu kedokteran berdasarkan bukti ilmiah).

Maksudnya, apa yang diberikan atau dilakukan oleh seorang dokter memang betul-betul bermanfaat bagi pasiennya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan hanya sekedar testimoni satu atau beberapa orang yang tidak objektif dan tidak terukur. Kalaulah muncul efek samping, maka efek samping itu sudah dapat diperkirakan sebelumnya dan dapat diantisipasi. Karena apa yang dilakukan oleh seorang dokter, tidak boleh hanya berdasarkan pada pengalaman empiris semata (misalnya pengalaman bertahun-tahun), atau “katanya-katanya”, bahkan tidak pula berdasarkan pendapat seorang pakar di suatu bidang sekalipun, apabila pendapatnya itu tidak didasarkan pada bukti ilmiah yang ada.

Pada dasarnya tahap-tahap itu sangat diperlukan untuk menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:

  1. Apakah bahan tersebut benar-benar menimbulkan efek terapi(efek kesembuhan)?
  2. Jika ya, bagaimana mekanisme kerjanya?
  3. Pada penyakit dan kondisi yang bagaimana bahan tersebut bekerja?
  4. Berapa kadar atau dosis yang aman?
  5. Berapa dosis yang efektif untuk peyakit atau kondisi tertentu/spesifik?
  6. Apa saja efek sampingnya?
  7. Bagaimana cara memberikan bahan tersebut?
  8. Pada kondisi atau situasi seperti apa yang mungkin justru menimbulkan bahaya bagi tubuh?
  9. Apakah bahan tersebut aman ketika dikombinasikan atau digunakan bersama-sama dengan obat lainnya?
  10. Apakah bahan tersebut lebih baik atau sepadan dengan terapi lain yang telah digunakan sebelumnya?

Oleh karena itu, sebelum seorang dokter meresepkan suatu obat, maka dia harus harus yakin –berdasarkan bukti ilmiah- bahwa obat tersebut memang aman, efektif, dan manjur (efficacious).

Contoh, saat ini diketahui bahwa habbatus sauda (Nigella sativa) mengandung banyak sekali bahan-bahan kimia aktif (Gambar 1).

Nigella sativa mengandung fixed oils 36%-38%, protein, alkaloid, saponin, dan essential oil 0,4%-2,5%. Fixed oil terutama terdiri dari asam lemak tidak jenuh (unsaturated fatty acids). Komponen utama dari essential oil antara lain thymoquinone (27,8%-57,0%), ρ-cymene (7,1%-15,5%), carvacrol (5,8%-11,6%), t-anethole (0,25%-2,3%), 4-terpineol (2,0%-6,6%), dan longifoline (1,0%-8,0%). Komponen thymoquinone selanjutnya akan dipecah menjadi dithymoquinone. Empat jenis alkaloid yang diketahui sebagai komponen dari Nigella sativa adalah nigellicine, nigellidine, nigellimine, dan N-oxide. [1, 2]

Yang perlu mendapatkan catatan tersendiri adalah meskipun Nigella sativa mengandung berbagai jenis zat aktif, pada saat ini baru thymoquinone yang telah diteliti secara luas. Sehingga sebenarnya, pengetahuan tentang efikasi dan keamanan zat-zat lain dalam Nigella sativa memang belum banyak diketahui.

 

Gambar 1. Struktur kimia dari beberapa zat aktif yang terkandung dalam habbatus sauda 

Dengan banyaknya bahan aktif yang terdapat dalam Nigella sativa, maka hendaknya diteliti terlebih dahulu komponen mana yang memiliki efek terapi, dan komponen mana yang memiliki potensi dapat menimbulkan efek samping. Apalagi terdapat laporan penelitian tentang kemungkinan efek hepatotoksik [menimbulkan kerusakan pada organ hati (liver)]yang ditimbulkan oleh Nigella sativa, sehingga membuat kita harus berfikir sejenak, komponen mana yang mungkin dapat menimbulkan efek samping tersebut? Harus diingat bahwa tidak ada bahan-bahan kimia yang dapat dijamin “benar-benar aman” (bebas risiko), karena setiap bahan kimia -apakah itu alami atau sintetis- adalah toksik pada dosis tertentu.

[Bersambung]

***

Disempurnakan ba’da maghrib, Lab EMC Rotterdam, 24 Rabi’uts Tsani 1439/ 11 Januari 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Hosseinzadeh H et al. Antibacterial activity of total extracts and essential oil of Nigella sativa L. seeds in mice. Pharmacologyonline 2007; 2: 429-435.

[2] Dari penjelasan ini, maka kita mengetahui bahwa iklan-iklan obat herbal yang menyatakan bahwa obat herbal yang diiklankan tersebut “tidak mengandung bahan kimia” adalah pernyataan yang menipu.

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply