Testimoni dalam Bidang Kesehatan: Fakta atau Sekedar Cerita? (01)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Maraknya Testimoni dalam Bidang Kesehatan

Testimoni, sebuah ungkapan cerita dan pengalaman yang sering disampaikan masyarakat untuk menilai dan mengklaim manfaat atau khasiat suatu bahan atau metode pengobatan tertentu. Testimoni menjadi andalan para penjual obat alternatif (non-medis) untuk mempromosikan produk-produk mereka. Melalui cerita orang-orang yang sembuh setelah mengkonsumsi suatu bahan tertentu, mereka meng-klaim bahwa “obat” yang mereka jual berkhasiat alias manjur. Hal ini terutama dilakukan untuk mengikat calon konsumen.

Tidak hanya klaim khasiat suatu obat, testimoni juga merambah ke aspek-aspek kesehatan lainnya. Misalnya, testimoni keberhasilan ibu yang berhasil melahirkan normal setelah sebelumnya melahirkan dengan operasi sesar. Lalu dengan bekal testimoni tersebut, dimotivasilah ibu-ibu hamil lainnya dengan kasus serupa agar melahirkan normal. Dalam masalah vaksin, sering kita dengar testimoni orang tua bahwa anak yang tidak divaksin lebih sehat dan lebih jarang sakit daripada anak yang divaksin.

Kita pun teringat ketika media sosial sempat heboh dengan usaha seorang praktisi thibb nabawi untuk membuat “ilmiah” terapi ruqyah sebagai pengganti operasi sesar bagi ibu yang hendak melahirkan, padahal dokter kandungan menganjurkan untuk segera dilakukan tindakan untuk menyelamatkan ibu dan janin yang dikandungnya. Alih-alih menampilkan tulisan ilmiah, tulisan tersebut justru membuat kita miris dan mengelus dada, karena semakin menunjukkan kesan ketertinggalan umat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan. Sebuah tulisan yang mungkin dianggap “ilmiah” oleh penulisnya, namun isinya tidak lebih dari sekedar menampilkan testimoni dari pengalaman istrinya sendiri ketika melahirkan.

Akhirnya, banyak orang menyandarkan kebenaran hanya berdasarkan testimoni atau kesaksian orang-orang di sekitarnya. Padahal, apa yang mereka tulis dalam testimoni-testimoni tersebut belum tentu benar dan valid, atau sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Ketika Pengobatan Ruqyah Dibawa ke Ranah Ilmiah

Dalam “tulisan ilmiah” kisah penggunaan ruqyah untuk menggantikan operasi sesar, kita dapati kutipan-kutipan di tulisan beliau semacam ini,

“Banyak sekali testimony membahagiakan dari saudari-saudari kita yang tidak jadi Caesar setelah diupayakan melalui upaya spiritual dengan Teraphy Al-Qur’an (ruqyah syariyyah).” [1]

Dalam hal ini, beliau menganggap bahwa “testimoni beberapa atau banyak orang” adalah bukti ilmiah untuk mengklaim bahwa ruqyah bisa menggantikan tindakan operasi sesar. Testimoni ini hanyalah “pengakuan keberhasilan” dari orang-orang yang beliau temui. Namun, tidak jelas berapa banyak orang yang beliau temui dan bagaimana kondisi spesifik kehamilan mereka masing-masing. Apalagi, ternyata beliau tidak mengamati sendiri orang-orang tersebut secara langsung. Beliau hanya mendengarkan kesaksian mereka semata.

Sebuah kekeliruan ketika menyandarkan kebenaran ketika hanya didasarkan atas pernyataan atau testimoni satu atau dua orang saja. Apalagi ketika didasarkan pada keyakinan lain bahwa “kebenaran itu relatif, tergantung pada sudut pandang atau keyakinan masing-masing pihak.”

Sebuah kekeliruan ketika menyandarkan kebenaran ketika hanya didasarkan atas pernyataan atau testimoni satu atau dua orang saja. Apalagi ketika didasarkan pada keyakinan lain bahwa “kebenaran itu relatif, tergantung pada sudut pandang atau keyakinan masing-masing pihak.” Sering kita melihat argumentasi semacam ini ketika mencoba meluruskan orang-orang yang mengklaim hanya berdasarkan testimoni. Mereka mengatakan, “Bagi yang meyakini bahan ini berkhasiat, silakan. Bagi yang tidak meyakini juga silakan. Namun kenyataannya, banyak yang mencoba menggunakan bahan ini lalu berhasil sembuh.”

Kita bisa bayangkan bahaya dari klaim dan argumentasi semacam ini. Jika kebenaran itu relatif, sesuai dengan standar keyakinan masing-masing, maka tidak akan ada sistem peradilan di dunia ini. Karena semua pihak akan meng-klaim kebenaran sesuai dengan keyakinan “batin” dan sudut pandang mereka masing-masing. Sehingga akhirnya semuanya bebas meng-klaim dengan dalih “dikembalikan kepada keyakinan masing-masing.”

Dulu, para ulama menyusun ilmu metodologi semacam ilmu ushul fiqh dan ushul hadits sebagai sarana untuk menimbang perbedaan pendapat di kalangan ulama. Dengan ilmu metodologi ini, mereka menguatkan suatu pendapat dan melemahkan pendapat lainnya. Sehingga ketika mereka menguatkan suatu pendapat, hal itu berdasarkan dalil, argumentasi dan tolak ukur yang jelas dan terukur, bukan semata-mata “keyakinan batin” sesuai keinginan dan kehendak hati. “Tradisi ilmiah” yang sudah diteladankan oleh para ulama inilah yang seharusnya kita ikuti dalam bidang-bidang lain di luar agama, termasuk dalam bidang kesehatan. [Bersambung]

***
Disempurnakan di pagi hari, Lab EMC Rotterdam, /7 Desember 2017

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Catatan kaki:
[1] https://www.facebook.com/notes/nuruddin-al-indunissy/caesar-al-quran-sebagai-solusinya/570383829807311/

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply