Testimoni dalam Bidang Kesehatan: Fakta atau Sekedar Cerita? (02)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Testimoni hanya Menceritakan Keberhasilan, bukan Kegagalan

Apakah testimoni bisa digunakan sebagai landasan dalam pengambilan keputusan di bidang kesehatan? Sebetulnya bisa, akan tetapi testimoni tersebut tentu saja harus diuji terlebih dahulu melalui serangkaian penelitian ilmiah. Hal ini untuk membuktikan apakah suatu klaim (testimoni) itu layak untuk dipercaya setelah melewati serangkaian uji. Ataukah hanya sebatas klaim (bohong) semata. Hal ini tentu saja sangat penting untuk klaim-klaim yang menyangkut kesehatan dan keselamatan nyawa manusia.

Jadi bukan sekedar asal “mungkin” atau “asal testimoni”. Inilah hal paling fatal dan paling krusial yang tidak akan pernah terjadi dalam pembahasan ilmiah. Tidak akan pernah ada dalam pembahasan ilmiah yang mendasarkan kebenaran hanya dari klaim orang per orang. Dan sayangnya, ruqyah untuk menggantikan operasi sesar ini (ketika operasi tersebut betul-betul dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa ibu dan/atau janin yang dikandung sang ibu), yang beliau tuliskan hanya pengamatan terhadap satu orang saja, yaitu istrinya sendiri. Hal ini jelas sangat tidak bisa diterima secara ilmiah.

Mungkin beliau telah menerapkannya pada sejumlah orang yang beliau ruqyah, namun belum beliau ungkapkan. Akan tetapi, berapakah jumlahnya? Dari sejumlah orang itu, berapakah yang berhasil? Berapakah jumlah yang gagal? Jika ternyata lebih banyak jumlah yang gagal, jujurkah jika kita hanya melaporkan yang berhasil saja? Dan demikianlah semua testimoni yang kita lihat selama ini, yaitu hanya menuliskan dan menceritakan keberhasilan. Sedangkan kisah-kisah kegagalan, tidak akan mungkin ditulis atau dicantumkan.

Lalu, tanpa pengamatan sendiri secara langsung, bagaimana kita bisa memastikan bahwa testimoni tersebut benar dan valid? Apakah testimoni tersebut menggunakan ukuran-ukuran yang jelas dan valid? Misalnya, testimoni dengan meng-klaim menjadi “lebih segar”, “lebih sehat”, “jarang sakit”, “kalau sakit lebih cepat sembuh”, bisa jadi hanya klaim subjektivitas semata yang jika diukur dengan ukuran objektif, akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Selain itu, bisa jadi keberhasilannya karena ikhtiar (faktor) yang lain, bukan bahan yang mereka klaim? Atau memang kondisi penyakitnya yang beragam, ada yang masih di tahap ringan, namun ada yang sudah tahap berat. Semua itu harus dituliskan secara transparan oleh seorang ilmuwan yang ingin menerbitkan jurnal ilmiah agar tulisannya diakui sebagai tulisan ilmiah. Karena ini menyangkut nyawa manusia, terlambat melakukan tindakan operasi darurat tertentu (semacam operasi sesar) bisa menyebabkan dua nyawa melayang sekaligus! Apalagi jika hal ini diikuti secara massal.

Kisah Pilu Pelaku VBAC

Beberapa pihak mengkampanyekan VBAC (vaginal birth after caesarean section) atau lahir normal pasca operasi sesar, tanpa mengetahui betul risiko yang mengintai sang ibu dan bayi. Dibumbui dengan testimoni-testimoni keberhasilan ibu yang berhasil VBAC, seolah-olah VBAC tidak memiliki risiko apa pun. Ditambah dengan “bumbu-bumbu” tawakkal dan sebagainya yang sebetulnya tidak pada tempatnya.

Terdapat satu kasus yang tidak akan pernah muncul dalam testimoni para “pemuja” VBAC. Sang ibu mengalami ruptur uteri (robekan rahim), akibatnya perdarahan hebat dan nyawa si ibu bisa saja tidak tertolong tanpa ada fasilitas kesehatan yang memadai. Sang ibu sudah 2 kali operasi caesar, lalu “ngeyel” mencoba VBAC DI RUMAH. Para dokter harus berjibaku menyelamatkan dua nyawa sekaligus, sang ibu dan anaknya. Alhamdulillah, sang ibu dan bayi selamat dalam kasus ini.

Kenalilah risiko, jangan sekali-sekali mencoba VBAC di rumah tanpa ada pendampingan dokter spesialis kandungan dan fasilitas kegawat-daruratan yang memadai, termasuk sarana operasi atau pembedahan emergency. Jangan pula mencoba VBAC hanya berdasarkan testimoni orang-orang yang berhasil VBAC, tanpa mengenali kondisi diri sendiri yang seharusnya dikonsultasikan kepada dokter kandungan yang ahli dalam masalah ini. Bukan didasarkan pada testimoni orang awam kebanyakan. Janganlah kita menjatuhkan diri kita sendiri ke dalam kebinasaan.

Kesimpulan, segala klaim tidak bisa langsung dipercaya begitu saja tanpa adanya eksperimen untuk menguji coba kebenarannya. Kita memang tidak bisa mendapatkan kebenaran secara mutlak (pasti 100% benar secara absolut), tetapi kita bisa mendapatkan kebenaran yang terukur. Apa yang selama ini dilakukan oleh para ilmuwan bukanlah untuk mendapatkan kesimpulan percobaan yang 100% benar. Akan tetapi, mendapatkan kesimpulan yang mendekati benar dengan tingkat confidence (kepercayaan) sedapat mungkin mendekati seratus persen. [Bersambung]

***

Disempurnakan di pagi hari, Lab EMC Rotterdam, /7 Desember 2017

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply