Testimoni dalam Bidang Kesehatan: Fakta atau Sekedar Cerita? (03)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Sekali Lagi, Bisakah Testimoni (Pengalaman) Dijadikan sebagai Patokan?

Kasus yang mungkin lebih sering kita jumpai, adanya iklan-iklan produk obat herbal mencantumkan pengalaman atau kisah nyata pasien tertentu yang sembuh setelah mengkonsumsi obat-obat herbal tersebut. Sehingga dari pengalaman-pengalaman itu, seolah-olah muncul kesan bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan penyakit A, B, dan seterusnya. Sehingga sering kita jumpai suatu produk obat diklaim mampu mengobati berbagai macam penyakit. Ini adalah sesuatu yang perlu dikritisi. Karena belum tentu ketika ada seseorang yang berobat untuk menghilangkan suatu penyakit yang dideritanya dengan menggunakan suatu bahan tertentu, dan setelah menggunakannya keluhannya tersebut hilang, berarti bahan tersebut benar-benar menyembuhkan penyakit yang dia derita.

Apalagi kita ketahui bahwa sebagian obat tradisional Indonesia -yang berasal dari tanaman tertentu- belum dikaji secara ilmiah tentang efektifitas dan keamanannya. Pengetahuan tentang khasiat suatu obat lebih banyak hanya didasarkan pada pengalaman yang diperoleh secara turun-menurun. Sehingga untuk menentukan efektifitas obat tradisional masih menjadi tanda tanya besar.

Hal ini karena ada beberapa hal yang perlu kita cermati sehubungan dengan hilangnya suatu penyakit dengan mengkonsumsi suatu bahan tertentu, yaitu apakah benar-benar karena pengaruh obatnya atau mungkin karena pengaruh yang lain? Oleh karena itu, kita perlu melihat dan merenungkan beberapa poin berikut ini.

Pertama, dalam dunia medis terdapat sekelompok penyakit yang memiliki sifat self-limiting disease (penyakit yang dapat sembuh sendiri, meskipun tanpa intervensi pengobatan). Istilah lain yang kadang digunakan adalah remisi spontan (hilang atau sembuh sendiri). Sifat ini memang belum dapat difahami dengan benar bagaimana mekanisme terjadinya. Akan tetapi, beberapa penyakit secara alami memang dapat sembuh atau hilang sendiri meskipun tanpa pemberian obat-obatan.

Oleh karena itu, untuk membuat kesimpulan bahwa suatu terapi memang menimbulkan efek kesembuhan, harus didukung oleh data bahwa persentase pasien yang berhasil diobati lebih banyak dibandingkan dengan kelompok pasien tanpa intervensi terapi. Sehingga yang dilihat adalah persentase keseluruhan, bukan contoh kasus per kasus. Kalau misalnya kemudian ada pasien yang tidak sembuh setelah menggunakan obat tersebut, apakah kita langsung katakan bahwa obat itu tidak ada gunanya? Jawabannya tidak, karena ini juga suatu kesimpulan yang terburu-buru.

Ke dua, beberapa penyakit mempunyai pola-pola atau waktu tertentu, misalnya orang yang alergi serbuk tanaman tertentu yang hanya muncul dalam beberapa bulan dalam satu tahun. Dia mungkin tidak menyadari bahwa alerginya itu dicetuskan oleh bahan-bahan tertentu yang tidak muncul sepanjang tahun. Ketika dia berobat ketika dalam kondisi tidak ada paparan, maka tentu penyakitnya akan terasa hilang, meskipun dalam waktu yang lain dia kambuh lagi, dan berobat lagi, kemudian sembuh lagi.

Ke tiga, efek “placebo”. Dalam dunia kedokteran, placebo merupakan suatu bahan yang sebenarnya tidak memiliki efek apa-apa (suatu bahan in-aktif, misalnya air atau pil kosong yang tidak mengandung bahan aktif tertentu tetapi kemasannya mirip dengan obat sebenarnya), yang digunakan sebagai pembanding dalam penelitian untuk meneliti efek obat baru.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun placebo, ternyata ada sekian persen subjek penelitian atau pasien yang ternyata sembuh atau berkurang gejala penyakitnya. Apakah mungkin, obat yang diiklankan tersebut juga memiliki efek placebo? Bahwa sebenarnya tidak menimbulkan efek apa-apa, tetapi “kebetulan” saja dalam suatu kondisi tertentu dapat sembuh.

Ke empat, kondisi psikosomatis. Kondisi ini menunjukkan suatu keluhan atau gejala tertentu, tetapi sebenarnya tidak ada bagian tubuhnya yang sakit, akan tetapi hanya “perasaan” pasien saja. Misalnya ada orang yang mengeluh sakit kepala hebat, ketika di-CTscan tidak ada apa-apa. Atau orang yang mengeluh sakit maag (gastritis), setelah dilakukan pemeriksaan ternyata juga tidak ditemukan apa-apa. Setelah diselidiki, keluhan itu muncul karena kondisi psikisnya yang memang kurang baik. [1]

Banyak pasien dengan gejala ini datang berobat ke dokter dan dikatakan tidak ada penyakit. Kemudian dia datang ke pengobatan alternatif  dan pada akhirnya sembuh. Padahal sembuhnya itu bukan karena obat yang diberikan -karena memang tidak sakit- tetapi karena orang yang memberi obat itu pandai memberikan sugesti, memberikan nasihat atau saran-saran yang dapat menenangkan jiwa pasiennya. Hal ini juga didukung oleh fakta bahwa terkadang ahli pengobatan alternatif memiliki “kharisma” tertentu seperti seorang ustadz, kyai, atau orang yang dituakan di suatu daerah, sehingga hal itu mempengaruhi sisi psikologis dari pasien itu sendiri.

Pengalaman Seorang Profesor

Penulis mendapatkan suatu faidah yang sangat berharga ketika membaca pengalaman seorang profesor di bidang kanker yang menderita kanker prostat stadium IV. Selain menempuh usaha-usaha secara medis -sampai berobat ke Amerika Serikat-, beliau juga menempuh beberapa bentuk pengobatan alternatif antara lain dengan mengkonsumsi madu, meminum rebusan sarang burung walet, teh benalu, jamur kayu, daun sambung nyawa [Gynura procumbens (Lour) Merr], dan daun dewa (Gynura procumbens var. Macrophylla). Hasil dari pengobatan-pengobatan tersebut memang menggembirakan. Namun, di akhir tulisannya beliau melarang para pembaca -terutama yang juga penderita kanker- untuk meniru begitu saja apa yang telah beliau kerjakan. Menurut beliau, hal ini karena adanya pertimbangan-pertimbangan berikut ini:

Pertama, tidak semua orang yang sakit kanker itu memiliki kondisi badan yang sama dalam melawan penyakit kanker.

Ke dua, sifat kankernya juga tidak sama pada tiap penderita, karena ada yang tumbuh cepat, ada yang kurang cepat, ada yang lamban, ada yang sangat ganas, ada pula yang kurang ganas.

Ke tiga, stadium kanker waktu ditemukan oleh dokter juga tidak sama, mungkin ada yang masih stadium 1 (stadium awal), atau mungkin sudah ada yang sampai stadium 4 seperti beliau. [2]

Penulis juga kadang melihat suatu “ketidak-adilan” terhadap klaim kegunaan suatu obat-obatan herbal. Karena seringkali yang disampaikan hanya keberhasilannya saja, sedangkan efek samping dan ketidakberhasilan obat tersebut enggan atau tidak mau untuk disampaikan. Sangat mungkin banyak juga yang menggunakan obat tersebut dan tidak sembuh. Lalu mengapa testimoni orang-orang yang tidak sembuh ini tidak ditampilkan? Hal ini karena testimoni yang kita lihat selama ini memang hanya didesain untuk menceritakan keberhasilan, bukan untuk mempertontonkan kegagalan.

Hal ini sangat berbeda dengan obat yang digunakan dalam dunia medis. Kita dapat melihat dalam kemasan atau brosurnya dicantumkan dosis penggunaannya, kemungkinan efek samping yang muncul, bagaimana cara mengatasinya, dalam kondisi apa atau siapa saja yang tidak boleh menggunakan obat itu, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pengetahuan kita tentang obat-obat herbal masih sangat kurang.

Kesimpulan

Hendaknya masyarakat tidak mudah percaya dengan klaim keberhasilan suatu bahan atau metode tertentu dalam bidang kesehatan, jika klaim tersebut hanya berdasarkan testimoni semata. Demikian pula, untuk suatu pengambilan keputusan yang menyangkut kesehatan atau bahkan nyawa manusia, hendaknya tidak hanya didasarkan atas testimoni yang belum jelas kebenarannya. [Selesai]

***

Disempurnakan di pagi hari, Lab EMC Rotterdam, /7 Desember 2017

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Faktor psikis dan emosi (seperti cemas/ansietas dan depresi) dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan mengakibatkan perubahan sekresi asam lambung. Stresor psikososial yang berpengaruh antara lain masalah anak (30%), hubungan antar-manusia (27%), persoalan antara suami-istri (23%), dan masalah dalam pekerjaan (21%). (Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, hal. 916)

[2]  Lihat Pengalaman Pribadi dengan Pengobatan Alternatif, hal. 17 oleh Prof. Asmino, dalam Kongres Nasional II, Perhimpunan Onkologi Surabaya, tahun 1993.

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply