Tetap Sehat Selepas Ramadhan

makanan lebaran

oleh: dr. Avie Andriyani Ummu Shofiyyah 

 

Bulan Ramadhan yang mulia akan pergi meninggalkan kita. Kini saatnya umat Islam merayakan hari raya idul fitri. Orang-orang mulai mempersiapkan diri menyambut hari besar yang amat ditunggu-tunggu umat muslim ini. Sayangnya, ada fenomena yang sangat memprihatinkan tapi sudah menjadi kebiasaan masyarakat pada umumnya, yaitu makan berlebihan saat hari raya. Maka tidak heran jika penyakit-penyakit yang sudah membaik saat bulan puasa akan muncul kembali setelah hari raya.

 

STOP MAKAN BERLEBIHAN

Makan berlebihan pada saat hari raya Idul Fitri nampaknya sudah menjadi pemakluman. Akibatnya, tubuh sehat yang diidamkan setelah menjalankan puasa sudah tinggal harapan semata. Setelah perayaan hari raya usai, banyak orang yang antri untuk mengecek kondisi kesehatannya. Banyak penderita tekanan darah tinggi, kencing manis, kadar kolesterol tinggi, kadar asam urat tinggi, dan maag yang kambuh penyakitnya gara-gara makan sembarangan ketika hari raya. Selain itu, orang yang sebenarnya kondisi kesehatannya baik-baik saja juga tidak luput dari gangguan kesehatan akibat menyantap makanan berlebihan. Kita tentu tidak ingin mengalami hal serupa. Yang kita harapkan adalah bisa tetap sehat setelah menjalankan ibadah puasa dan terhindar dari gangguan-gangguan kesehatan akibat makan berlebihan saat hari raya.

 

SETAHUN SEKALI

”Tidak apa-apa, cuma setahun sekali” merupakan alasan yang paling sering dilontarkan ketika hendak menyantap makanan yang dihidangkan saat hari raya tiba. Tidak ada lagi menahan diri, apalagi memantang makanan tertentu yang seharusnya dihindari supaya penyakit tidak kambuh. Disamping itu, banyak makanan khas yang memang hanya muncul saat hari raya, sehingga banyak orang yang tidak mau melewatkan begitu saja kesempatan untuk mencicipinya. Alhasil, hari raya akhirnya justru menjadi ajang ”balas dendam” setelah sebulan penuh berpuasa. Menyantap makanan sudah tidak ada pikir-pikir atau pilih-pilih lagi. Rasanya, semua makanan boleh disantap sebanyak mungkin. Padahal, sederet akibat yang muncul karena cara makan yang tidak terkontrol sudah menanti. Lalu, mengapa ambil risiko dengan beralasan ”setahun sekali”?

 

KAMBUH LAGI SETELAH HARI RAYA

Sakit maag yang sebelumnya sudah mulai membaik banyak yang kambuh lagi selepas ramadhan. Berbagai macam makanan dengan rasa pedas dan asam yang dihidangkan saat hari raya tidak ketinggalan ikut memperparah kondisi lambung penderita maag. Kebiasaan makan berlebihan dan tanpa aturan juga berimbas pada para penderita penyakit kronis lainnya, seperti kencing manis (diabetes mellitus), hipertensi (tekanan darah tinggi)  serta kadar kolesterol tinggi dan kadar asam urat tinggi.

Kadar gula darah penderita kencing manis bisa tidak terkontrol jika masih saja menyantap aneka macam kue dan biskuit berkadar gula tinggi yang dihidangkan saat hari raya. Penderita hipertensi juga demikian, tekanan darahnya bisa melonjak karena banyak menyantap makanan yang asin dan berlemak. Maka sudah bisa dimaklumi, kalau pada akhirnya kasus kejadian stroke akibat hipertensi yang tidak terkontrol akan meningkat setelah hari raya. Selain itu, penyakit radang sendi akibat kadar asam urat yang tinggi (artritis gout) juga makin meningkat.

Bagi seseorang dengan penyakit kronis, apa yang telah diusahakan terkontrol selama puasa Ramadhan juga sebaiknya diusahakan agar tetap terjaga setelah puasa Ramadhan berakhir supaya tidak kambuh lagi. Konsisten adalah kuncinya, maka sudah seharusnya seorang dengan penyakit kronis lebih berhati-hati dalam memilih makanan yang akan dikonsumsinya.

 

ORANG SEHAT JUGA HARUS BERHATI-HATI

Bagi orang sehat yang tidak mempunyai penyakit kronis sebelumnya, tetap harus berhati-hati. Bukan tidak mungkin, makan berlebihan saat hari raya merupakan awal mula munculnya berbagai macam penyakit. Kondisi pencernaan yang sudah bagus dan terlatih saat menjalankan puasa bisa terganggu akibat menyantap hidangan yang rata-rata kurang memperhatikan kesehatan.

Diare (mencret), kembung, mual dan rasa tidak nyaman baik di ulu hati maupun lokasi perut yang lain akan muncul sebagai akibat mengonsumsi makanan yang beraneka ragam, terutama yang mengandung lemak dalam jumlah berlebihan dengan rasa yang terlalu asam atau pedas. Belum lagi biasanya tersedia minuman bersoda yang pada akhirnya akan memperburuk gangguan pada pencernaan kita. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai memilih makanan dan minuman agar tidak jatuh sakit setelah berhari raya.

 

SEMUA TELAH DIATUR DALAM ISLAM

Ajaran Islam menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam masalah makan dan minum, karena akan berakibat kurang baik bagi kesehatan kita. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Tidak ada ’bejana’ yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah seseorang itu mengonsumsi beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka ia bisa mengisi sepertiga perutnya dengan makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk nafasnya”. (HR. Imam Ahmad, At-Tirmidzi). Dengan demikian, bisa kita pahami bahwasanya makan berlebihan tidak dianjurkan dalam Islam karena bisa menimbulkan berbagai macam akibat yang tidak baik bagi tubuh kita.

 

PERTAHANKAN YANG TELAH DICAPAI

Salah satu manfaat yang bisa dipetik dengan berpuasa adalah sembuh atau terkontrolnya penyakit yang diderita. Selain itu, bagi orang yang sehat akan semakin merasakan banyak manfaat dibanding saat sedang tidak berpuasa. Namun, sangat disayangkan ketika banyak orang yang sudah berhasil mengontrol kondisi kesehatannya saat puasa harus menghadapi kenyataan kambuh lagi karena tidak bisa menahan diri saat hari raya tiba. Hendaknya kebiasaan hidup sehat yang telah kita usahakan selama ramadhan tetap bisa kita pertahankan. Semoga kita termasuk orang-orang yang berhasil meraih barakah dan manfaat berpuasa di bulan ramadhan. Selamat merayakan hari raya idul fitri. Taqabbalallahu minna wa minkum.

 

 

 

 

About Author

dr. Raehanul Bahraen

alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh pendidikan spesialis patologi klinik di FK UGM

View all posts by dr. Raehanul Bahraen »

Leave a Reply