Tetap Shalat Meskipun Kondisi Sakit

/ Oleh / Bimbingan Islam, Hukum Islam / No comments
sholat ketika sakit

Kemudahan Syariat Islam

Syariat Islam dibangun di atas ajaran yang ringan dan mudah. Allah Ta’ala memberikan keringanan bagi hamba yang memiliki udzur/kesulitan dalam melaksanakan ibadah sesuai dengn udzur yang ada agar mereka dapat melaksanakan ibadah tanpa mengalami kesulitan. Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Allah sekali-kali tidak menjadikan kesulitan bagimu dalam beragama “ (Al Hajj:78).

Juga firman-Nya,

يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu“ (Al Baqarah:185).

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu “ (At Taghabun:16).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم

 “Jika Aku memerintahkan kalian maka lakukanlah semampu kalian”.

Dan juga sabda beliau,

 إن الدين يسر

Sesungguhnya agama itu mudah”.

Tata Cara Shalat Orang Sakit

Para ulama sepakat bahwa bagi yang tidak mampu berdiri, maka diperbolehkan shalat sambil duduk. Jika tidak mampu sambil duduk, boleh shalat sambil berbaring miring dengan wajah menghadap kibat, dan dianjurkan di miring sisi sebelah kanan. Jika tidak mampu shalat sambil berbaring miring, maka boleh shalat sambil berbaring terlentang. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 فإن لم تستطع فمستلقيا صلِّ قائماً فإن لم تستطع فقاعداً فإن لم تستطع فعلى جنبً 

Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak mampu maka shalatlah sambil duduk. Jika tidak mampu, shalatlah sambil berbaring miring. Jika tidak mampu maka shalatlah sambil berbaring terlentang.” (H.R Bukhari)

Bagi yang mampu berdiri namun tidak bisa rukuk atau sujud, maka harus tetap shalat sambil berdiri, kemudian berisyarat untuk rukuk kemudian duduk dan berisyarat untuk sujud. Hal ini berdasarkan firman Allah:

وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ

Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. “(Al Baqarah:238)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صل قائماً

Shalatlah sambil berdiri

Hal ini juga sesuai dengan keumuman yang terdapat dalam firman Allah :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu “ (At Taghabun:16).

Bagi yang tidak mampu untuk rukuk dan sujud, maka boleh dengan membungkukkan badan dengan gerakan sujud lebih rendah dari rukuk. Jika mampu untuk rukuk namun tidak mampu untuk sujud saja maka tetap rukuk dan sujud dengan membungkuk.  Jika dia tidak mampu membungkukkan punggungnya maka cukup membungkukkan leher.

Jika punggungnya bungkuk sehingga seolah-olah seperti posisi rukuk, maka ketika dia hendak rukuk posisinya lebih membungkuk lagi. Dan ketia sujud hendaknya lebih mendekatkan wajahnya ke tanah jika memungkinkan.

Jika tidak mampu berisyarat dengan kepala,maka cukup dengan niat dan ucapan. Tidak gugur kewajiban shalat baginya selama masih sadar dan berakal.

Kapanpun pasien mampu melaksanakan shalat sesuai dengan keterbatasan yang ada padanya baik ketika berdiri, duduk, sujud, maupun memberi isyarat, maka berpindah ke posisi yang memungkinkan baginya dan tetap harus shalat sesuai dengan kondisi terdebut.

Jika seseorang tertidur atau lupa sehingga tidak shalat maka wajib baginya untuk segera shalat setelah terbangun dari tidur atau ketika ingat. Tidak boleh baginya untuk meninggalkan shalat sampai masuk waktu shalat yang ditinggalkan kemudian shalat di waktu tersebut. Dasarnya dalah firman Allah Ta’ala,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Dan dirikanlah shalat untuk mengingatku “ (Thaha:14)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda, : “Barangsiapa yang tertidur atau lupa dari meninggalkan sholat maka wajib baginya untuk segera shalat ketika dia ingat dan tidak ada kafarah lain baginya

Pentingnya Kedudukan Shalat dalam Islam

Seseorang tidak boleh meninggalkan shalat dalam keadaaan apapun. Bahkan seharusnya lebih semangat untuk melakukan shalat ketika kondisi sakit daripada ketika kondisi sehat. Tidak boleh baginya meninggalakan shalat wajib sampai keluar dari waktunya meskipun kondisi sakit selama akalnya masih sehat. Hendaknya dia tetap menunaikan shalat tepat waktu sesuai dengan kemampuannya. Jika seseorang meningggalkan shalat secara sengaja sementara akalnya masih sehat  dan mengetahui tentang hukum syariat  serta dia mampu untuk menunaikan shalat, maka para ulama sepakat orang tersebut kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر

Perjanjian antara kami dengan mereka (orang-orang musyrik) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir”

رأس الأمر الإسلام وعموده الصلاة وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله

Pokok segala sesuatu adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah

 بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة

Pembeda antara seseoarang dengan syrik dan kekufuran adalah meninggalkan shalat

Pendapat ini adalah yang paling tepat berdasarakan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang pentingnya dan kedudukan shalat dalam agama Islam.

Jika berat baginya untuk melaksanakan shalat tepat pada waktunya maka boleh baginya untuk menjamak shalat dhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya’ baik dengan jama’ taqdim ( dilakukan di awal waktu) maupun jama’ ta’khir (dilakukan di akhir waktu) sesuai dengan kondisi yang mudah baginya. Bisa mendahulukan shalat ashar bersama dhuhur atau mengakhirkan shalat dhuhur bersama asar. Begitu pula bisa mendahulukan shalat isya’ bersama maghrib atau mengakhirkan shalat maghrib bersama isya’. Adapun shalat subuh tidak boleh dijama’ dengan shalat sebelum maupun sesudahnya, karena waktu shalat subuh terpisah dengan waktu shalat sebelum maupun sesudahnya.

Demikian beberapa kondisi yang berkaitan dengan tata cara  shalat bagi orang yang sakit. Kita memohon kepada Allah agar menyembuhkan kaum muslimin yang sedang sakit, menghapus dosa-dosa mereka, dan menganugerahi kita semua dengan kesehatan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Wa shallallahu  wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi.

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter

Bagi Anda yang berminat untuk berpartisipasi dalam donasi penerbitan buku saku /leaflet panduan ibadah orang sakit bisa lihat informasi di sini

About Author

dr. Adika Mianoki

Alumni Ma'had Al 'Ilmi, lulusan Fakultas Kedokteran UGM, saat ini sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi di FK UGM-RSUP Sardjito.

View all posts by dr. Adika Mianoki »

Leave a Reply