Thimerosal dan Vaksin: Siapakah yang Sebenarnya Menjadi Korban? (01)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Thimerosal dan vaksin selalu menyimpan “kisah” tersendiri. Inilah salah satu komponen vaksin yang sering diributkan, lebih-lebih era medsos saat ini. Thimerosal digunakan pada sebagian kecil vaksin, terutama untuk vaksin kemasan multidosis. Thimerosal berfungsi sebagai antimikroba (antibakteri dan jamur) untuk mencegah kontaminasi pada vaksin. Kadar (dosis) thimerosal telah disesuaikan sehingga tidak berbahaya bagi tubuh penerima vaksin.

Sejak dulu sampai sekarang ini, thimerosal digunakan sebagai salah satu senjata oleh para penentang vaksinasi (baca: antivaks) untuk menebar ketakutan di masyarakat. Sehingga mereka pun akhirnya enggan atau tidak mau mengikuti program imunisasi. Klaim utama antivaks menyatakan bahwa thimerosal menyebabkan autisme atau merusak sistem syaraf pusat (otak).

Thimerosal dan terapi mercury-chelating agents

Pada tahun 1999-an, muncul kontroversi yang dihembuskan oleh penggiat anti-vaksin bahwa thimerosal yang digunakan dalam vaksin berbahaya, di antaranya karena dapat menyebabkan autisme. Meskipun ini hanyalah isu dan tidak terbukti secara ilmiah [1], masyarakat terlanjur percaya dan menyebabkan penurunan kepercayaan orang tua terhadap program imunisasi di Amerika Serikat. Pemerintah AS akhirnya “mengalah”, sehingga dua lembaga berwenang yang mengatur program imunisasi di Amerika Serikat –the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan the American Academy of Pediatrics (AAP)– meminta agar perusahaan vaksin tidak lagi menggunakan thimerosal. Hal ini semata-mata dilakukan untuk menjaga kepercayaan orang tua dan mempertahankan angka cakupan angka imunisasi tetap tinggi, bukan karena thimerosal yang berbahaya atau tidak aman.

Keputusan CDC dan AAP ini memang sedikit membingungkan dan berpotensi diselewengkan (baca: dipelintir) maksudnya. Jika thimerosal memang aman, mengapa pemerintah akhirnya “mengalah” dengan propaganda para antivaks? Bagaimana mungkin penarikan penggunaan suatu bahan yang tidak berbahaya, menyebabkan vaksin menjadi “lebih aman”? [2]

Benar saja, isu penarikan thimerosal ini pun dimainkan (“digoreng”) oleh para penggiat anti-vaksin. Akhirnya, rekomendasi CDC dan AAP ini pun di-salah-pahami oleh orang tua yang termakan oleh propaganda antivaks. Mereka mengira bahwa thimerosal benar-benar berbahaya sehingga direkomendasikan untuk diganti dengan bahan lain. Lalu, bagaimana dengan anak-anak yang sudah mendapatkan vaksin mengandung thimerosal? Bukankah “racun thimerosal” itu sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh anak-anak kami? Begitulah kira-kira ketakutan orang tua yang salah paham dengan rekomendasi AAP dan CDC. Sebagian di antara mereka mendirikan grup advokasi berdasarkan kepercayaan bahwa thimerosal (dalam vaksin) menyebabkan autisme, untuk menuntut pemerintah dan perusahaan vaksin secara hukum.

Autisme adalah salah satu penyakit yang menjadi “momok menakutkan” bagi para orang tua dan menjadi penyakit yang sangat populer ketika itu. Apalagi, autisme sulit untuk disembuhkan karena faktor penyebab yang kompleks. Situasi ini pun dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab -termasuk pemberitaan negatif oleh media massa- dengan memberikan harapan palsu bernama “mercury-chelating agents.” Mercury-chelating agents, salah satu contohnya adalah EDTA (ethylene diamine tetra-acetic acid), adalah bahan yang di-klaim mampu membuang etil merkuri yang terlanjur masuk ke dalam tubuh (darah) melalui vaksin. Mercury-chelating agents di-klaim dapat digunakan sebagai terapi autisme akibat thimerosal yang “sudah terlanjur” masuk ke dalam tubuh melalui vaksin. Pembodohan yang sangat luar biasa sekali.

Padahal, tanpa bahan ini pun, tubuh kita sudah mampu membuang thimerosal yang memiliki waktu paruh hanya ±7 hari. Fakta pun menunjukkan, merkuri juga ditemukan dalam air susu ibu (ASI). Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif akan terpajan dengan merkuri lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan kadar merkuri yang ada dalam vaksin [3]. Namun tentu saja hal ini tetap aman bagi bayi, karena secara keseluruhan dosis atau kadarnya rendah, tidak berbahaya, dan tubuh memiliki mekanisme khusus untuk membuang merkuri.

Memanfaatkan “kepolosan” dan “ke-tidak-tahu-an” ini, industri mercury-chelating agent tumbuh subur di kalangan orang tua yang memiliki anak penderita autisme. Website-website bermunculan untuk menawarkan terapi mercury-chelating agents bagi anak penderita autisme. Padahal, terapi mercury-chelating agents ini sama sekali tidak bermanfaat untuk penderita autisme [4] dan hanya meningkatkan risiko kematian akibat efek samping dari mercury-chelating agent itu sendiri. Salah satunya adalah gangguan keseimbangan elektrolit yang berefek terhadap kerja jantung. Pada bulan Agustus 2005, seorang anak penderita autisme berusia 5 tahun di kota Pittsburgh AS, dilaporkan meninggal dunia akibat gangguan jantung setelah mendapatkan suntikan EDTA. Juga kematian anak autisme berusia 5 tahun akibat henti jantung mendadak (cardiac arrest) [5]. Kasus kematian tidak berhenti di sini. Akibat penggunaan EDTA yang ngawur, beberapa laporan lain juga menunjukkan adanya kematian setelah penggunaan mercury-chelating agents [6].

Lagi-lagi, akhirnya masyarakat dan anak-anak penderita autisme yang akhirnya menjadi korban informasi-informasi yang menyesatkan oleh para antivaks. Dan janganlah berharap bahwa penggiat anti-vaksin bersedia bertanggung jawab atas berbagai kejadian demi kejadian ini. Anak-anak penderita autisme yang seharusnya mendapatkan kasih sayang, perawatan dan stimulasi yang optimal, justru pada akhirnya menjadi korban propaganda para penggiat anti-vaksin dan korban terapi “coba-coba” ala antivaks [7]. [Bersambung]

***

Selesai disempurnakan di sore hari, Rotterdam NL 27 Dzulhijjah 1438/19 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Berbagai kajian tentang keamanan etilmerkuri (timerosal) dalam vaksin dapat dilihat di:

  1. Offit PA dan Jew RK. Addressing parents’ concerns: do vaccines contain harmful preservatives, adjuvants, additives, or residuals? Pediatrics 2003; 112(6 Pt 1): 1394-1401.
  2. Offit PA. Thimerosal and vaccines: a cautionary tale. N Engl J Med 2007; 357(13): 1278-1279.
  3. Thompson WW et al. Early thimerosal exposure and neuropsychological outcomes at 7 to 10 years. N Engl J Med 2007; 357(13):1281-92.
  4. Hviid A et al. Association between thimerosal-containing vaccine and autisme. JAMA 2003; 290(13): 1763-1766.
  5. Parker SK et al. Thimerosal-containing vaccines and autistic spectrum disorder: a critical review of published original data. Pediatrics 2004; 114(3): 793-804.
  6. Institute of Medicine. Immunization safety review: vaccines and autism. Washington DC: National Academies 2004..
  7. Price CS et al. Prenatal and infant exposure to thimerosal from vaccines and immunoglobulins and risk of autism. Pediatrics 2010; 126(4): 656-664.
  8. Tozzi AE et al. Neuropsychological performance 10 years after immunization in infancy with thimerosal-containing vaccines. Pediatrics 2009; 123(2): 475-482.

[2] Offit PA. Thimerosal and vaccines – A cautionary tale. N Engl J Med 2007; 357(13): 1278-1279.

[3]  Gundacker C et al. Lead and mercury in breast milk. Pediatrics 2002; 110: 873-878.

[4]  James S et al. Chelation for autism spectrum disorder (ASD). Cochrane Database Syst Rev 2015. CD010766.

[5]  Baxter AJ and Krenzelok EP. Pediatric fatality secondary to EDTA chelation. Clin Toxicol (Phila) 2008; 46(10): 1083-1084.

[6] Beauchamp RA et al. Deaths associated with hypocalcemia from chelation therapy – Texas, Pennsylvania, and Oregon. J Am Med Assoc 2006; 295: 2131-2133.

[7] Pembahasan ini dikutip dari buku penulis, Islam, Sains dan Kesehatan, hal. 132-136 (Pustaka Muslim, 2016).

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply