Thimerosal dan Vaksin: Siapakah yang Sebenarnya Menjadi Korban? (02)

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Aspek keamanan etilmerkuri (thimerosal atau EtHg) bagi tubuh manusia

Salah satu faktor yang berhubungan dengan keamanan thimerosal (EtHg) adalah waktu paruh EtHg yang relatif pendek, yaitu sekitar ±7 hari, berbeda dengan metilmerkuri yang memiliki waktu paruh ±50 hari [1]. Sebagai konsekuensinya, thimerosal tidak akan terakumulasi dalam tubuh.

Sebagian orang membawa-bawa sebuah penelitian in vitro (penelitian di laboratorium, yaitu di tabung atau cawan percobaan) bahwa etilmerkuri yang berasal dari vaksin bersifat toksik untuk sistem syaraf pusat, di antaranya penelitian oleh Sharpe MA et al. (2012) [2]. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara in vitro, EtHg bersifat toksik untuk sel astrosit (salah satu sel penyusun sistem syaraf) yang ditandai dengan adanya kerusakan pada mitokondria (salah satu komponen dalam sel yang berperan penting dalam respirasi atau pernapasan sel).

Masalah ini kami tanggapi dalam poin-poin berikut ini:

  1. Penelitian tersebut merupakan penelitian in vitro, di mana peneliti bisa memaparkan langsung sel astrosit dengan thimerosal. Kondisi seperti ini, belum tentu terjadi secara in vivo(yaitu pada tubuh manusia), karena belum tentu thimerosal yang ada dalam vaksin dan disuntikkan ke dalam otot, dapat mencapai sistem syaraf pusat. Lalu, berapa kadar EtHg dari vaksin yang dapat masuk ke otak?

Penelitian untuk menjawab pertanyaan tersebut hanya dapat dilakukan pada binatang percobaan yang sesuai, karena tidak mungkin dilakukan secara langsung pada manusia. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar etilmerkuri yang mencapai ke otak kurang lebih (hanya) sekitar 0,17% – 0,22% dari total thimerosal yang terdapat dalam vaksin [3, 4]. Jumlah ini tentu sangat minimal, mengingat dosis thimerosal yang terdapat pada sebagian kecil vaksin saat ini hanya 0,025-0,05 mg per dosis vaksin. Jumlah yang masuk ke otak juga akan semakin minimal mengingat EtHg yang dibuang secara cepat oleh tubuh kita, sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas.

  1. Jika memang benar bersifat sebagai toksik bagi sel syaraf, tentu akan memunculkan gejala penyakit pada orang-orang yang divaksin. Padahal, berbagai penelitian dan kajian sistematis menunjukkan bahwa thimerosal tidak menimbulkan autisme dan gangguan syaraf lainnya[5]. Sekali lagi, hal ini menunjukkan adanya kesesuaian dengan analisis pada poin pertama yang telah kami sebutkan.
  2. Mempermasalahkan kandungan thimerosal dalam vaksin tentu sudah tidak relevan lagi pada saat ini karena thimerosal tidak lagi digunakan sejak tahun 2001 untuk vaksin yang digunakan dalam program imunisasi rutin. Sebagian kecil vaksin yang masih menggunakan thimerosal tidak digunakan dalam program imunisasi rutin, seperti vaksin influenza. Hal ini sebagai tindak lanjut dari rekomendasi CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics)pada tahun 1999. Thimerosal tidak digunakan dalam vaksin bukan karena tidak aman (karena berbagai penelitian menunjukkan keamanan thimerosal), akan tetapi semata-mata untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi. Hal ini sebagaimana yang telah kami bahas di seri sebelumnya.

Semoga penjelasan ini dapat membuka wawasan kita semua untuk lebih bersikap kritis dalam menghadapi setiap propaganda dan provokasi antivaks. Bisa jadi mereka membawakan suatu hasil penelitian jurnal ilmiah, namun dibawa sesuai dengan selera mereka sendiri. Akibatnya, yang menjadi “korban” adalah masyarakat awam yang mungkin tidak bisa memahami hal ini dengan baik. Hendaknya selalu kroscek dan bertanya kepada para ahlinya jika memang tidak mengetahui kebenaran suatu isu tentang aspek keamanan vaksin. [Selesai]

***

Selesai disusun di sore hari, Rotterdam NL 27 Dzulhijjah 1438/19 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1] Barregard L et al. Toxicokinetics of mercury after long-term repeated exposure to thimerosal-containing vaccines. Toxicol Sci 2011; 120(2): 499-506.

[2]  Sharpe MA  et al. Thimerosal-derived ethylmercury is a mitochondrial toxin in human astrocytes: possible role of fenton chemistry in the oxidation and breakage of mtDNA. J Toxicol 2012; 373678.

[3] Harry GJ et al. Mercury concentrations in brain and kidney following ethylmercury, methylmercury and thimerosal administration to neonatal mice. Toxicol Let 2004; 154: 183-189.

[4] Burbacher TM et al. Comparison of blood and brain mercury levels in infant monkeys exposed to methylmercury or vaccines containing thimerosal. Environ Health Perspect 2005; 113: 1015-1021.

[5] Sebagaimana yang sudah kami bahas di seri sebelumnya.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply