Tips agar tidak tersesat  di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Tentu kejadian hilang dan tersesat di Masjdil Haram dan Nabawi sangat tidak kita harapkan. Apalagi yang hilang atau tersesat adalah orang yang sudah tua dan sepuh. Terkadang beberapa dari mereka terpisah dari rombongan saat berdesakan, genggaman tangan yang erat saja tidak cukup.

Berikut beberapa hal yang menjadi faktor terjadinya “hilang dan tersesat” yang perlu kita perhatikan bersama:

  1. Sangat banyaknya jumlah jamaah haji, sehingga harus berdesak-desakan. Apalagi Indonesia adalah jumlah jamaah haji terbanyak di dunia.
  2. Kendala berbahasa sehingga tidak bisa bertanya atau berkomunikasi, maka saran kami pelajarilah bahasa Arab, bahasa Al-Quran atau minimal anda mempelajari beberapa kosa kata keseharian baik dalam bahasa Amiyyah (semacam bahasa pasar) atau bahasa Arab Fusha (Bahasa Al-Quran dan resmi). Akan tetapi kebanyakan petugas memakai bahasa pasaran Ammiyah yang memang lebih mudah dipelajari. Atau anda juga bisa mengunakan bahasa Inggris dasar anda, karena beberapa petugas bisa berbahasa Inggris.
  3. Sebagian besar jamaah haji sudah berusia lanjut, bahkan atau juga yang agak pikun dan tidak fokus. Mereka terkadang terpisah rombogan karena terbawa arus saat berdesak-desakan.
  4. Beberapa jamaah haji juga memiliki tingkat pendidikan yang bervariasi, beberapa dari mereka berasal dari pedesaan yang tidak kenal lift atau tangga eskalator. Sehingga tidak bisa menggunakannya.
  5. Jamaah haji belum mengenal area Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Karenanya sebaiknya melihat peta kecil dari Masjidil Haram dan Nabawi.

Berikut beberapa tips agar tidak tersesat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi:

  1. Sebaiknya jangan pernah sendiri jika pergi ke Masjidil Haram dan Nabawi, selalu bersama rombongan, baik rombongan besar maupun kecil terdiri dari tiga orang.
  2. Bersama rombongan harus membuat janjian tempat bertemu dan berkumpul jika terpisah dan buat kira-kira kapan waktu berkumpul lagi jika terpisah. Tempat janjian paling mudah adalah pinta keluar masjid baik nomor atau nama pintunya. Atau daerah sekitar tanda lampu hijau memulai tawaf jika nantinya terpisah berdesak-desakan ketika tawaf.
  3. Ketika pertama kali masuk masjidil Haram, ingatlah nomor pintu dan namanya. Seandainya belum janjian, bisa kembali lagi ke pintu tersebut. Sebaiknya ketika awal masuk juga, bawa sandal masuk ke masjidil Haram (masukkan dalam plastik yang kita bawa atau yang tersedia di dekat pintu) karena untuk keluar sekedar mengambil sandal agak susah dan mungkin kita tidak bisa pulang kembali lewat pintu pertama di mana kita mengambil sandal
  4. Pastikan handphone dan gadget di bawa dengan nomor-nomor teman (baik nomor saudi mapun indonesia) sudah ada dalam kontak, terutama nomor pembimbing haji.
  5. Khusus di Masjid Nabawi, pintu masuk laki-laki dan wanita dipisah. Suami-istri hendaknya janjian tempat untuk bertemu.
  6. Khusus saat di Mina, padang Arafah dan Muzdalifah. Daerahnya luas dan bentuk kemah-kemah hampir sama. Maka Sebaiknya jamaah haji tidak jalan-jalan terlalu jauh di perkemahan Mina misalnya mencari teman atau saudara di maktab yang lain. Ketika melempar jumrah, selalu bersama rombongan. Jangan ragu-ragu meminta bantuan mutawif (tim pembimbing haji, dan biasanya sesuai dengan negaranya sehingga anda bisa berbahasa Indonesia). Setiap maktab (pemetaan daerah-daerah kemah di Mina) ada mutawifnya

 

dikutip dari buku “Sehat dan Mabrur saat Ibadah Haji dan Umrah” BUKU GRATIS program Kesehatan Muslim

penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Artikel www.kesehatanmuslim.com

 

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB  Kesehatan Muslim: 32356208

Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

jika ingin konsultasi gratis, silahkan kirim pertanyaan di sini

Share.

About Author

alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh pendidikan spesialis patologi klinik di FK UGM

Leave A Reply