Tips Mengatasi Gigitan Ular

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Ular berbisa yang Biasa Menggigit

Dewasa ini sering kali menjumpai di sekitar kita binatang-binantang yang berbahaya bagi manusia. Binatang tersebut disebut membahayakan manusia apabila pada kehidupan sehari-hari mudah berinteraksi dan dapat melukai bahkan mematikan bagi kehidupan manusia.

Salah satu binatang yang berbahaya bagi kehidupan manusia ialah ular. Sekitar 15% dari 3000 spesies ular yang ada didunia merupakan spesies yang membahayakan manusia. Dan sekitar 25 spesies diketahui merupakan spesies jenis ular berbisa (memiliki venom) yang mematikan. Dalam kehidupan sehari-hari Ular tidak dapat mengejar manusia karena gerakannya yang lebih lamban daripada gerakan manusia.

Pada prinsipnya ular lebih banyak menghindar dan bersembunyi bila bertemu manusia dan baru akan menyerang bila ia merasa terancam atau terdesak.

Deskripsi Ular Berbisa

Ular merupakan hewan bertubuh panjang, tanpa memiliki kaki dan bergerak dengan  kontraksi otot terhadap permukaan tanah. Ular ada yang hidup di air, ada pula yang hidupnya di daratan. Ular juga di kelompokkan menjadi ular yang berbisa maupun yang tidak berbisa.

Ular berbisa akan mempertahankan hidup dari serangan musuh dengan menggunakan venom (bias) yang dikeluarkan dari mulut nya masuk ke aliran darah musuh yang di lubangi oleh kedua taring dari ular tersebut, sedangkan ular yang tidak berbisa akan mempertahankan diri dari serangan musuh dengan cara melilit musuhnya dengan panjang anggota tubuhnya.

Sehingga pada musuh yang mati karena serangan ular berbisa akan di dapatkan bekas tusukan 2 taring pada anggota tubuhnya, sedangkan pada gigitan ular tidak berbisa tidak ditemukan. Artinya apabila ular menyerang manusia, da nada 2 bekas gigitan tusukan gigi taring, maka dapat di pastikan gigitan ular tersebut karena gigitan ular berbisa.

Taksonomi Ular Berbisa

Ular berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular yang termasuk famili ini adalah ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus). Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau  Viperidae.

Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah). Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya.

Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. Crotalinae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ), yang terletak di antara lubang hidung dan mata. Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah (Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).

Apa bahayanya dari gigitan bisa ular tersebut?

Bisa (venom) adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa.

Bahaya yang sering ditimbulkan dari gigitan ular berbisa, menyebabkan seseorang menjadi syock karena racun yang menyebar melalui peredaran darah manusia. Dampak paling fatalnya ialah rusaknya organ dan kematian. Racun di produksi dan disimpan di kedua glandula dibawah mata ular. Lokasinya terletak di rahang atas. Kebanyakan racun larut air. Berbagai enzim pada venom (bisa ular) mempunyai efek destruksi. Enzim protease, kolagenase, dan arginine ester hydrolase teridentifikasi terdapat di venom ular.

Enzim lain yang telah ditemukan yakni pertama, hyaluronidase yang  mempercepat penyebaran venom melalui  jaringan subcutan dengan merusak mukopolisakarida. Kedua, phospholipase A2, yang berperan dalam hemolysis sekunder pada membrane sel darah merah dan memacu kematian sel otot. Ketiga, enzim trombogenic yang memacu terbentuknya bekuan fibrin (pembekuan darah).

Konsentrasi dari enzim-enzim tersebut sangatlah berbeda antar spesies satu-dengan spesies lainnya. Venom tersebut selain dapat merusak jaringan sekitar gigitan, juga dapat menyebabkan keracunan secara sistemik (menyeluruh seluruh tubuh). Efek blockade dari system neuromuscular akibat venom yang menyebar secara sistemik dapat menyebabkan kegagalan nafas pada orang yang di gigitnya. Efek lokal dari venom ialah kerusakan fungsi system organ.

Efek yang lain diantaranya edema lokal (bengkak), waktu pengisian caliper melambat, dan adanya cairan intertisial di paru-paru. Gagal jantung dapat dihasilkan dari hipotensi dan asidosis akibat venom ular, dan juga dapat merusak ginjal ditandai dengan terdapatnya myoglobin pada urinnya, atau kita sebut dengan myoglobinuria.

Apa saja ciri yang ditemukan pada seseorang yang digigit ular?

Apabila menemui seseorang yang merasa kesakitan karena gigitan ular, hal pertama yang dilakukan ialah memastikan bahwa seseorang tersebut benar-benar digigit ular dan mengetahui ciri-ciri dari ular yang menggigitnya. Pada seseorang dengan gigitan ular berbisa, biasanya menimbulkan 2 lubang bekas taring yang menusuk kulit korban. Gejala yang ditimbulkan diantaranya nyeri yang cepat muncul dan intensif karena efek venom.

Pembengkakan, dan rasa kebas (parastesia) pada area gigitan dan ekstremitas gigitan juga sering di rasakan korban. Gejala sistemik, seperti nausea, kehilangan kesadaran, kesulitan menelan dan kesulitan bernafas juga sering ditemui.

Pada tampakan fisik korban perhatikan nafas, dan tanda sirkulasi dari korban. Pentingnya dilakukan evaluasi tanda vital, seperti pengukuran frekuensi nafas, frekuensi nadi, saturasi oksigen dan termoregulasi korban. Untuk korban remaja-dewasa frekuensi nafas normal antara 12-24x/menit sedangkan anak-anak bias lebih cepat tergantung berat badan dan usia. Frekuensi nadi normal dewasa yakni 60-100x/menit, dan saturasi normal yakni >92% dengan alat pulse oxymetri.

Untuk pengukuran termoregulasi, dilakukan pengukuran menggunakan thermometer yang dikempitkan di ketiak, dimana suhu normal 36,5-37,5oC. apabila ditemukan lebih cepat, lebih tinggi atau bahkan lebih lambat frekuensi dan lebih rendah nilai suhu maka nilai itu sebagai kegawat-daruratan dan harus dilakukan pertolongan segera yang kemudian harus segera dibawa ke rumah sakit.

Pada gigitan ular, ditemukan adanya kerusakan jaringan sekitar. Pembengkakan akan muncul setelah 5 menit gigitan sampai 6-12 jam setelahnya. Juga dapat ditemukan bullae, kemerahan, dan pengumpulan darah di dalam jaringan. Pada gejala sistemik, dapat ditemukan pada korban gejala berupa hipotensi, bercak kemerahan di sekujur kulit (tanda kebocoran pembuluh darah/plasma merembes, mimisan (epitaksis), muntah darah (hemoptysis), dan blockade neuromuscular. Blokade neuromuscular apabila mengenai sis tem pernafasan, akan menyebabkan distress respirasi. Gejala lain yakni kelemahan anggota gerak, baik tidak bisa merasakan sentuhan maupun tidak dapat digerakkan seutuhnya, atau kita sebut dengan paresthesia dan dysthesia.

Yang dimaksud gejala bulla yakni, timbul di kulit ruam dengan bulatan berisi cairan bening, dan apabila disentuh bagian bulla tersebut, maka korban akan merasakan nyeri hebat. Dalam gigitan ular ini, tampakannya akan menyerupai berbagai penyakit seperti trauma vascular ekstremitas, syok septik, wound infection, anafilaksis, dan Deep venous thrombosis.

Bagaimana kaidah pemeriksaan dari gigitan ular ini?

Pada korban gigitan ular berbisa, perlu dilakukan pemeriksaan tambahan untuk melihat perjalanan sakit yang diderita. Biasanya korban akan dilakukan pemeriksaan sel darah merah perifer, protrombin time dan tromboplastin time, kimia darah, elektrolit, BUN, kreatinin, urinalisis dan analisis gas darah. Untuk analisis gas darah, dilakukan untuk mendeteksi adanya pengaruh gejala sistemik atau tidak. Pemeriksaan menggunakan radiografi foto thorak, dilakukan untuk melihat adanya komplikasi edema paru-paru.

Bagaimana prinsip pengobatannya?

Tujuan dari pengobatan gigitan ular ialah menetralkan racun, mengurangi kematian dan mencegah komplikasi. Pengobatan yang dapat dilakukan memakai beberapa obat dibawah ini, seperti antivenin dan antibiotic. Antivenin marupakan penetral antibody. Salah satu contoh antivenin ialah Crotalidae Polyvalent Immune FAB (ovine). Antivenom ini akan menetralkan racun dari gigitan ular. Kedua dengan pemberian antibiotic. Pemberian antibiotic dilakukan untuk mencegah adanya infeksi.

Pemberian antibiotic broad-spectrum dengan tujuan profilaksis (pencegahan) masih sangat di rekomendasikan. Pilihannya ialah ceftriakson, yakni antibiotic golongan cephalosporin dengan aktivitas broad spectrum kuman gram negative, dan mempunyai efikasi tinggi terhadap bakteri yang resisten. Pengobatan di atas, harus dilakukan atas petunjuk dokter karena dalam kedokteran nanti akan di pantau berbagai hal, seperti penolakan obat (alergi), kondisi kesan umum korban, tanda vital, dan berbagai hal lainnya.

Hal yang harus diwaspadai dari gigitan ular?

Berikut ini kami sampaikan beberapa hal penting dan dini untuk penanganan pertama gigitan ular. Pada prinsipnya sebagai penolong pertama anda harus yakin akan keselamatan diri anda, setelah itu baru menyelamatkan korban dari bahaya lebih lanjut. Hal yang senantiasa diperhatikan ialah tangani setiap luka maupun gejala nyeri yang jelas dan mengurangi resiko cedera dan infeksi lebih lanjut. Jangan ragu-ragu untuk mencari bantuan medis jika memang diperlukan.

Dan jangan lupa untuk mencatat waktu dan asal luka serta bila mungkin mengenali makhluk yang menyerang korban, hal ini dimaksudkan agar petugas medis dapat menangani luka dan mengantisipasi kemungkinan komplikasi atau menentukan pencetus dari reaksi alergi yang berat.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, ular biasanya tidak agresif untuk menggigit dan hanya menggigit apabila terganggu atau salah pegang. Jika penolong menemukan korban masih berhadapan dengan ular, mintalah korban untuk tenang dan tidak bergerak, karena gerakan korban akan memicu ular tersebut untuk menggigit.

Daerah gigitan ular biasanya adalah ekstremitas baik berupa tangan maupun kaki. Sangat jarang sekali ditemukan gigitan pada selain ekstremitas meskipun tidak menutup kemungkinan gigitan juga dapat ditemukan didaerah lain seperti perut, kepala, leher dan bagian tubuh lainnya.

Pertolongan Pertama Gigitan Ular

Berdasarkan uraian diatas, diketahui bahwa terdapat ular yang berbisa dan ada yang tidak. Banyak kematian diakibatkan oleh gigitan ular berbisa seperti viper, kobra, ular karang, dan mamba. Gigitan ular berbisa sangat nyeri dan kadang-kadang area yang tergigit menjadi bengkak dan memar.

Tidak semua ular berbisa sehingga untuk pertolongannya penolong harus memperhatikan bekas gigitan yang ditinggalkan karena dapat memberi petunjuk mengenai jenis ularnya. Gejala dan tanda :  Reaksi emosi yang kuat, sakit kepala, nyeri bagian gigitan, gangguan penglihatan, berkeringat dan sukar bernafas, mual, muntah, mengantuk, pingsan.

Lakukan pertolongan dengan penanganan berikut ini:

1.   Pastikan jalur nafas, pernafasan dan kondisi sirkulasi korban baik dan segera menghubungi bantuan, baik puskesmas maupun rumah sakit.

2.   Istirahatkan dan tenangkan korban

3.   Imobilisasi segera mungkin bagian yang tergigit (gunakan fiksasi pembalut tekan pada daerah luka dan seputar ekstremitas)

4.   Jaga ekstremitas yang tergigit tetap berada di bawah jantung

5.   Jangan sentuh lukanya jika gigitan berbisa

6.   Jika tidak berbisa bersihkan tempat gigitan

7.   Gunakan analgetik untuk mengurangi rasa nyeri

8.   Berikan serum antibisa ular jika ada.

9.   Segera bawa korban ke rumah sakit

Dalam melakukan penanganan awal diatas, perlunya diketahui hal-hal penting berikut ini. Selain dapat memperparah dari kondisi korban, juga dapat membahayakan diri sendiri. Hal-hal penting tersebut diantaranya: pertama, jangan mencuci racun yang ada di kulit, kedua, jangan memotong atau mengiris daerah gigitan. Ketiga, jangan mencoba menghisap racun sendiri. Keempat, jangan coba menangkap ularnya, cukup kenali saja dan mengidentifikasinya saja.

 

Demikian penjelasan mengenai gigitan ular. Semoga mudah difahami dan memberi manfaat bagi kita semua. Tentu saja penolong awan tidak disarankan untuk melakukan penolongan yang detile, tetapi setidaknya mengetahui pertolongan awal untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit atau puskesmas agar mendapat pertolongan lebih menyeluruh.

Share.

About Author

Medical, Research and Qur'an. Alumni Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Semoga Anda mendapat manfaat dari Tulisan dan Website ini. Mengakar kuat, Menjulang Tinggi.

Leave A Reply