Vaccine doesn’t work? Sebuah refleksi atas pengalaman pribadi

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Setiap kali sebagian masyarakat meragukan manfaat vaksin, penulis senantiasa teringat dengan pengalaman pribadi penulis beberapa tahun yang lalu. Penulis sampaikan hal ini bukan sebagai “bukti pokok” manfaat vaksin, akan tetapi hanya sebagai sebuah gambaran tentang pentingnya vaksinasi. Sedangkan bukti pokok manfaat vaksin diperoleh dari penelitian-penelitian yang bertahun-tahun lamanya.

Bulan November 2012, ketika itu penulis berada di tahun ke dua program master (S2) di Erasmus Medical Center Rotterdam, penulis mulai meneliti sistem imunitas pada pasien-penderita hepatitis B kronis. Sampel penelitian tentu saja darah dari pasien, yang kadang juga mengidap virus HIV (ko-infeksi hepatitis B dan HIV) atau hepatitis C. Darah itu penulis ambil dari pasien-pasien di rumah sakit kemudian ditransfer ke lab.

Satu syarat mutlak sebelum masuk lab dan memulia penelitian adalah: peneliti harus memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis B, tidak boleh tidak.

Kebetulan, penulis tidak membawa dokumen bukti vaksinasi hepatitis B dari Indonesia (karena bukan syarat pengajuan visa). Satu-satunya jalan adalah mendapatkan vaksinasi ulang (booster) di sini. Itu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Sehingga pelaksanaan penelitian pun harus ditunda terlebih dahulu sebelum penulis memiliki bukti kekebalan tersebut

Vaksin hepatitis B akan merangsang tubuh kita memproduksi antibodi anti-Hbs dalam kadar yang tinggi dalam jangka panjang. Adanya antibodi anti-Hbs akan mencegah masuknya virus hepatitis B ke hati (liver) sehingga seseorang kebal terhadap infeksi ini.

Berarti, apakah cukup vaksin (booster) saja kemudian selesai? Belum cukup. Karena jika kadar anti-HBs penulis belum memenuhi standar minimal, berarti penulis harus divaksin lagi. Dua minggu setelah vaksin, darah penulis harus diambil untuk melihat kadar anti-hepatitis B (anti-Hbs) yg merupakan penanda (marker) kekebalan terhadap hepatitis B. Alhamdulillah, kadar anti-Hbs penulis protektif (alias kebal) pasca mendapatkan booster vaksin hepatitis B.

 

Dokumen itu penulis bawa ke lab sehingga penulis bisa masuk lab dan bekerja sampai sekarang ini.

Ada dua kemungkinan kita memiliki anti-Hbs sebagai penanda kekebalan terhadap infeksi hepatitis B:

  1. Melalui vaksin hepatitis B (plus boosternya)sesuai dengan jadwal yang direkomendasikan.
  2. Terinfeksi alami virus hepatitis B, kemudian sembuh secara alami. Namun pada anak2, kemungkinan sembuh hanya sekitar 20%, 80% sisanya tidak sembuh alias menjadi kronis, dan berisiko menjadi komplikasi gangguan liver seperti kanker hati (karsinoma hepatoseluler).

Sebagai smart parents, kita mau memilih jalan yg mana? Terinfeksi alami?

Vaksin hepatitis B adalah vaksin pertama yg dibuat dengan teknologi DNA rekombinan dan purifikasi (pemurnian) protein. Tidak memakai enzim tripsin dari babi, tidak memakai animal- atau human-derived cell line. Tetapi sebagian masyarakat kita, tetap saja menolak untuk divaksin hepatitis B dengan alasan manfaat atau kehalalan.

Penulis hanya ingin membuka mata dan pikiran kita semua. Bahwa di sana ada tenaga medis dan peneliti yg setiap hari terpajan dengan darah dan cairan tubuh lainnya dari pasien-pasien “berbahaya”. Ada pasien HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan virus-virus lainnya. Kita patut bersyukur ketika sebagian virus-virus tersebut sudah ada vaksinnya sehingga dengan izin Allah Ta’ala, dapat memberikan perlindungan secara maksimal bagi tenaga medis dan peneliti.

Penulis tidak bisa membayangkan jika kelak anak mereka dewasa, dan status imunitasnya nol, lalu ada di antara mereka yg ingin mendedikasikan diri dalam tugas-tugas kemanusiaan seperti para dokter, perawat, bidan, dan tenaga medis lainnya. Atau ada di antara mereka yang ingin menjadi ilmuwan dan peneliti, karena mereka juga mendedikasikan diri untuk kemanusiaan.

***

Selesai disusun ba’da subuh, Rotterdam NL 20 Dzulhijjah 1438/12 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply