Vaksin dan imunisasi: Proses belajar tanpa henti bagi kita semua

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Seperti biasa, menjelang bulan imunisasi MR, diskusi tentang vaksin pun kembali panas dan topik yang dibahas pun tidak berbeda jauh dengan diskusi-diskusi sebelumnya.

Vaksin: proses belajar tanpa henti bagi kita semua

Bagi kita, diskusi pro dan kontra vaksin adalah diskusi yang mengharuskan kita untuk terus belajar, baik bagi orang tua, pengambil kebijakan dan tenaga kesehatan. Setiap kali ada isu, hoax atau berita-berita tentang vaksin, semua kita dituntut untuk memeriksa informasi terkini dengan benar dan akurat.

Meskipun demikian, banyak di antara berita negatif tentang vaksin tersebut bersumber dari hoax yang direproduksi berulang-ulang, di-share dari satu akun facebook ke akun facebook yang lain, atau dari grup whatsapp yang satu ke grup whatsapp yang lain. Hoax yang sudah lama tenggelam akan muncul kembali ketika pemerintah menggalakkan program imunisasi nasional.

Bagi yang benar-benar ingin belajar, berikut rangkuman link-link tulisan saya tentang imunisasi yang sudah ada di beberapa website:

Vaksin dan vaksinasi merupakan salah satu pencapaian penting dalam dunia ilmu kedokteran dan kesehatan. Siapa sangka, teknologi vaksinasi yang dikenal luas saat ini, justru berasal dari teknik variolasi yang sudah sejak lama dipraktekkan umat Islam pada zaman Dinasti Utsmaniyyah. Jadi, anggapan bahwa vaksinasi adalah program pembunuhan umat muslim, adalah anggapan yang tidak berdasar.

Vaksinasi dan Sejarah Emas Ilmu Kedokteran Islam (1)

Vaksinasi dan Sejarah Emas Ilmu Kedokteran Islam (2)

Namun, keberhasilan program vaksinasi telah memakan korban. Ya, korban dari keberhasilan program vaksinasi adalah vaksin itu sendiri. Ketika kasus-kasus penyakit tinggal sedikit karena program vaksinasi, mereka menganggap bahwa penyakit-penyakit tersebut hanyalah “mitos” atau “dongeng”. Lalu masyarakat menganggap bahwa vaksin itu tidak penting lagi. Kondisi yang berbeda adalah ketika vaksin belum dikenal, masyarakat ketika itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa “ganasnya” penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Sehingga mereka pun sangat memahami arti penting vaksinasi.

Program Vaksinasi Polio “Memakan Korban”

Khusus untuk penyakit Rubella (Congenital Rubella Syndrome), negara kita (Indonesia) masih menjadi perhatian dunia karena angka kejadian masih tergolong tinggi karena terlambat dalam memasukkan vaksinasi Rubella ke dalam program imunisasi nasional. Padahal, negara-negara tetangga kita sudah berhasil menekan angka CRS dengan mempertahankan angka cakupan vaksinasi Rubella >90%. Akibatnya, Indonesia pun menjadi sorotan negera-negara di dunia bersama dengan negara-negara lain yang belum memasukkan program vaksinasi Rubella ke dalam program imunisasi nasional:

Congenital Rubella Syndrome (CRS) di Indonesia

INDONESIA: Salah satu penyumbang kasus Rubella terbesar di dunia

Bahkan di luar negeri, seperti di Australia, program vaksinasi itu benar-benar wajib, dalam arti ada konsekuensi serius (denda dan sejenisnya) jika sengaja tidak mau imunisasi tanpa alasan medis yang bisa dibenarkan:

“No Jab, No Pay” Upaya Pemerintah Australia Menjaga Herd Immunity

Oleh karena itu, mengikuti program vasinasi bisa jadi hukumnya wajib, karena termasuk dalam ketaatan terhadap ulil amri (penguasa atau pemerintah) dalam hal yang bukan maksiat. Hal ini karena sebagian jenis imunisasi dimasukkan dalam program imunisasi nasional dan vaksinnya pun disediakan secara gratis oleh pemerintah. Dan ini yang menjadi salah satu prinsip aqidah ahlus sunnah, yaitu taat dan patuh terhadap perintah penguasa, sebagaimana kita wajib taat terhadap aturat lalu lintas.

Inilah yg difatwakan oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid hafidzahullahu Ta’ala:

Vaksinasi: Mubah, Sunnah ataukah Wajib?

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz Al-Jibrin rahimahullahu Ta’ala juga berfatwa bahwa tidak mengimunisasi-kan anak merupakan salah satu bentuk menelartankan mereka (khusus link berikut adalah tulisan rekan sejawat saya):

Apakah Orangtua Berdosa Apabila Anaknya Tidak Diimunisasi ?

Latar belakang penolakan terhadap vaksinasi

Lalu, banyak masyarakat kita kemudian menolak imunisasi dengan berbagai sebab dan alasan, terutama banyaknya informasi tidak benar yang beredar melalui internet.

Latar Belakang Keengganan Mengikuti Program Imunisasi

Atau, vaksin dianggap tidak ada manfaatnya sama sekali. Padahal, vaksin adalah salah satu sebab atau metode bagi petugas kesehatan dan peneliti untuk melindungi dirinya dari pajanan virus atau bakteri berbahaya, tentunya dengan tetap bertawakkal kepada Allah Ta’ala.

Vaccine doesn’t work? Sebuah refleksi atas pengalaman pribadi

Sebagian orang yang berlebih-lebihan dalam masalah ini menganggap bahwa keislaman mereka akan sempurna jika menolak imunisasi, tentu saja ini anggapan yang tidak benar.

Menjadi Muslim Sejati Dengan Menolak Vaksinasi?

Sebagian orang mengganggap bahwa vaksin itu haram, karena prosesnya menggunakan enzim yang berasal dari babi (porcine). Betul, sebagian kecil vaksin (tidak semua), memang menggunakannnya dalam proses produksi:

Hukum Vaksinasi Polio (1) : Prosesnya Bersinggungan Dengan Bahan Dari Babi?

Meskipun demikian, fatwa para ulama ahlus sunnah, di antaranya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Alu Syaikh, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz, Majma’ Fiqh Al-Islamy telah menegaskan tentang halal-nya. Hal ini karena dalam produk akhir vaksin, komponen tersebut sudah dihilangkan.

Hukum Vaksinasi Polio (2) : Fatwa Dan Dukungan Para Ulama

Artinya, proses produksi vaksin-vaksin tersebut telah memenuhi kaidah syariat, terutama kaidah terkait dengan pencucian najis.

Pencucian Benda Yang Terkena Babi, Harus Dengan Tanah?

Dan juga menimbang bahwa mengganti komponen-komponen tersebut tidak semudah membalik telapak tangan. Dan perlu diketahui, sebagian perusahaan (produsen) vaksin sudah mengganti enzim tripsin tersebut dengan produk enzim tripsin rekombinan. Bukan hanya semata-mata karena isu halal-haam, akan tetapi untuk lebih meningkatkan keamanan.

Kontroversi Vaksin: Mengapa Tidak Menggunakan Enzim Tripsin dari Sapi?

Demikian pula Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah memfatwakan “darurat”. Dalam perspektif fiqh, kondisi darurat menunjukkan bahwa pilihan (VAKSIN) tersebut HARUS diambil, karena tidak ada alternatif pengganti lainnya (ASI, herbal, dan sebagainya). Kalau ada alternatif yang berfungsi sama dengan vaksin, tidak mungkin MUI mengeluarkan fatwa darurat.

Hukum Vaksinasi Polio (3) : MUI Membolehkan Dengan Menimbang Kaidah Darurat

Namun, sebagian orang merasa tidak puas. Dan menuduh para ulama tersebut tidak mengetahui proses produksi vaksin sehingga berfatwa halal. Tentu saja hal ini merupakan celaan terhadap para ulama tersebut.

Benarkah Para Ulama “Tertipu” Ketika Mengeluarkan Fatwa Tentang Vaksin?

Isu-isu terkait vaksinasi MR

Vaksinasi adalah di antara metode kesehatan yang diakui oleh para ulama, di antaranya fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullahu Ta’ala di sini:

Fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz tentang Hukum Imunisasi

Berkaitan dengan vaksinasi MR, vaksin yang dipakai memang buatan India, mengapa?

Karena India adalah produsen vaksin MR yg telah memenuhi standar pre-kualifikasi WHO dan kapasitas produksinya besar untuk siap ekspor, termasuk eskpor ke Indonesia. Karena tidak semua produsen vaksin lulus sertifikasi untuk bisa mengekspor produknya.

Mengapa Vaksin Measles-Rubella (MR) Harus Diimpor dari India?

Standar prekualifikasi WHO ini standar yang sangat ketat, dan negara kita, Indonesia, telah memiliki perusahaan nasional yang telah tersertifikasi WHO. Semoga suatu saat nanti kita sudah mampu memproduski vaksin MR sendiri.

https://kesehatanmuslim.com/vaksin-perbandingan-kekuatan-antara-indonesia-vs-cina/

Lalu, dimunculkan lagi isu bahwa vaksin MR mengandung atau berasal dari janin hasil aborsi. Tentang ini, silakan dibaca dengan seksama dua seri tulisan kami di sini:

https://kesehatanmuslim.com/penggunaan-human-cell-line-dalam-produksi-vaksin-virus-01/

https://kesehatanmuslim.com/penggunaan-human-cell-line-dalam-produksi-vaksin-virus-02/

Sebetulnya, masalah di atas agak rumit dijelaskan bagi orang awam, tapi semoga penjelasan di atas mencukupi.

Isu lainnya adalah masalah sertifikat halal. Perlu diketahui, bagi kelompok antivaks, akan selalu ada celah untuk menyerang program vaksinasi pemerintah. Sebagaimana kasus vaksin meningitis, ketika sudah ada sertifikat halal-pun, mereka akan tetap mencari celah dan cara untuk menolaknya.

Akan selalu ada alasan, inilah ciri khas antivaks yaitu “shifting hypothesis”:

https://kesehatanmuslim.com/shifting-hypothesis-senjata-utama-kelompok-antivaks/

Tentang isu ini, jika semua produk kesehatan dituntut untuk sertfikasi halal, maka ini tentu saja menyalahi kaidah syariat bahwa hukum asal segala sesuatu adalah halal, sampai ada bukti (dalil) diharamkannya.

Dan juga akan menyulitkan diri kita sendiri, karena agama ini dibangun di atas kemudahan. Bagaimana dengan produk obat bius, infus, obat-obatan tablet yang sampai sekarang banyak yang belum tersertifikasi halal? Berapa nyawa yang tidak akan tertolong jika semua itu haram karena belum ada sertifikat halal-nya?

Bagaimana dengan rokok yang peredarannya lebih luas daripada vaksin dan banyak dikonsumsi oleh para perokok? Mengapa peredaran rokok tidak “ditunda” dulu sampai ada sertifkasi halal ke semua pabrik rokok?

Pada akhirnya, peperangan kita melawan antivaks bukan hanya terbatas pada vaksin (karena vaksin hanyalah “simbol” mereka), tetapi perang terhadap masalah ilmu pengetahuan (sains) dan bidang kesehatan lainnya secara umum:

https://kesehatanmuslim.com/mengapa-kita-harus-berperang-melawan-antivaks/

[Selesai]

***

@Erasmus MC Na-1001, 1 Dzulhijjah 1439/ 13 Agustus 2018

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply