Vaksin Mubah Dan Bermanfaat

Pertanyaan:
assalamu’alaikum Wr. WB. Alhamdulillah, Saya seorang ayah dari seorang anak yang berumur 3,5 bulan-an. Sejak lahir, saya bersama istri berupaya memberikan perawatan untuk anak, termasuk rutin mengantarkan anak untuk divaksin. Tapi mucul keraguan, setelah “katanya” kehalalan vaksin tersebut masih dipertanyakan. Di sini saya mohon penjelasan, apa benar ada indikasi keharamannya, walaupun cuma sedikit, walaupun cuma “nyerempet”. Bukan berdasarkan fatwa MUI yang pernah “membolehkan” karna darurat, karna anak saya tidak sakit, tidak bisa menerima alasan darurat, dan insya Allah bisa sehat tanpa vaksin. Tapi saya, dan pastinya banyak orang tua muslim lain yang ingin kejelasan tentang kehalalan atau keharamannya, bukan kebolehann atau manfaatnya, mengingat kebanyakan dokter yang katanya muslim tak banyak berkomentar tentang halal haramnya. Kami sudah tau apa manfaatnya, tapi belum yakin kehalalannya. Sebagai sesama muslim, saya bertanya kepada sesama muslim yang berprofesi sebagai dokter, halalkah vaksin untuk bayi?. terimakasih, Wassalamu’alaikum.

Jawaban:
Hukum vaksinasi adalah mubah dan secara kedokteran setelah melalui penelitian sangat bermanfaat.
Berita bahwa vaksin dibuat dari media-media yang berbahaya tidak benar, apalagi ada pernyataan bahwa vaksin dibuat dengan media atau bahan ginjal kera, otak binatang dan nanah. Maka pernyataan ini tidak benar. Mungkin itu bersumber dari sumber-sumber yang sudah sangat lama sekali ketika awal-awal vaksin ditemukan dan dikembangkan atau sekedar sedang diujicoba pembuatannya. Tetapi di zaman sekarang pembuatan vaksin tidak demikian, sudah digunakan bahan yang aman, jika memang ada bahan kimia tertentu, maka kadarnya sudah diperkirakan agar aman. Logikanya semua bahan kimia bisa berbahaya, akan tetapi jika kadarnya sangat sedikit dan sudah dipantau maka insyaAlla tidak berbahaya. Seperti pemanis buatan, pengawet dan pewarna buatan. Di zaman ini, kita tang hidup diperkotaan bisa dibilang hampir tiap hari memakan hal ini. Karena produk-produk yang dijual dan dikonsumsi sudah terdapat bahan-bahan ini.

Kemudian tidak perlu dipermasalahkan panjang lebar lagi mengenai status darurat dalam menggunakan vaksin yang haram. Misalnya wacana “vaksin itu daruratnya dimana? Orangnya kan sehat?”. Karena sudah ditemukan vaksin meningitis yang halal.
Bias dilihat pernyataan berikut,

“Majelis Ulama Indonesia menerbitkan sertifikat halal untuk vaksin meningitis produksi Novartis Vaccines and Diagnostics Srl dari Italia dan Zhejiang Tianyuan Bio-Pharmaceutical asal China. Dengan terbitnya sertifikat halal, fatwa yang membolehkan penggunaan vaksin meningitis terpapar zat mengandung unsur babi karena belum ada vaksin yang halal menjadi tak berlaku lagi.”
”Titik kritis keharaman vaksin ini terletak pada media pertumbuhannya yang kemungkinan bersentuhan dengan bahan yang berasal dari babi atau yang terkontaminasi dengan produk yang tercemar dengan najis babi,” kata Ketua MUI KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Selasa (20/7).
Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2010/07/21/03395385/Tersedia.Vaksin.Meningitis.Halal

Begitu juga dengan pernyataan resmi dari MUI:
Fatwa MUI 4 Sya’ban 1431 H/16 Juli 2010 M [Fatwa Terbaru MUI]
Fatwa no. 06 tahun 2010 tentang
Penggunaan vaksin meningitis bagi jemaah haji atau umrah
Menetapkan ketentuan hukum:
1.Vaksin MencevaxTM ACW135Y hukumnya haram
2.Vaksin Menveo meningococal dan vaksin meningococcal hukumnya halal
3.Vaksin yang boleh digunakan hanya vaksin yang halal
4.Ketentuan dalam fatwa MUI nomor 5 tahun 2009 yang menyatakan bahwa bagi orang yang melaksanakan wajib haji atau umrah wajib, boleh menggunakan vaksin meningitis haram karena Al-hajah [kebutuhan mendesak] dinyatakan tidak berlaku lagi
[sumber: http://jambi.kemenag.go.id/file/dokumen/fatwavaksin.pdf]

Satu lagi yang perlu dipahami bahwa pada vakisin meningitis yang masih menggunakan enzim babi sebagai katalisator. Maka yang namanya katalisator dalam ilmi biokimia adalah hanya berfungsi untuk mempercepat reaksi dan dia tidak bercampur dengan materi sehingga hasil akhir hari vaksin meningitis sudah bebas dari enzim babi.
Berikut penjelasan dari Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT. Bio Farma, Drs. Iskandar, Apt., M., mengatakan bahwa enzim tripsin babi masih digunakan dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin polio (IPV).

“air PAM dibuat dari air sungai yang mengandung berbagai macam kotoran dan najis, namun menjadi bersih dan halal setelah diproses. Iskandar melanjutkan, dalam proses pembuatan vaksin, tripsin babi hanya dipakai sebagai enzim proteolitik (enzim yang digunakan sebagai katalisator pemisahsel/protein) .Pada hasil akhirnya (vaksin), enzim tripsin yang merupakan unsur turunan dari pankreas babi ini tidak terdeteksi lagi. Enzim ini akan mengalami proses pencucian, pemurnian, dan penyaringan.”
[sumber: http://www.scribd.com/doc/62963410/WHO-Batasi-Penggunaan-Babi-Untuk-Pembuatan-Vaksin]

Jika ini benar, maka tidak bisa kita katakan vaksin ini haram, karena minimal bisa kita kiaskan dengan binatang jallalah, yaitu binatang yang biasa memakan barang-barang najis. Binatang ini bercampur dengan najis yang haram dimakan, sehingga perlu dikarantina kemudian diberi makanan yang suci dalam beberapa hari agar halal dikonsumsi. Sebagian ulama berpendapat minimal tiga hari dan ada juga yang berpendapat sampai aroma, rasa dan warna najisnya hilang.
Imam Abdurrazaq As-Shan’ani rahimahullah meriwayatkan,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَحْبِسُ الدَّجَاجَةَ ثَلَاثَةً إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ بَيْضَهَا

“Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya beliau mengurung [mengkarantina] ayam yang biasa makan barang najis selama tiga hari jika beliau ingin memakan telurnya.” [Mushannaf Abdurrazaq no. 8717]

Kalau saja binatang yang jelas-jelas bersatu langsung dengan najis karena makanannya kelak akan menjadi darah daging bisa di makan, maka jika hanya sebagai katalisator sebagaimana penjelasan diatas serta tidak dimakan lebih layak lagi untuk dipergunakan atau minimal sama.

Dijawab oleh: dr. Raehanul Bahraen
Artikel www.kesehatanmuslim.com

Bagi kaum muslimin yang ingin konsultasi kesehatan gratis bisa kirim pertanyaan di sini. (Kami usahakan jawaban pertanyaan dipublish setiap hari Rabu dan Ahad)

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter. Add PIN BB Kesehatan Muslim: 32356208
Ingin pahala melimpah? Mari berbagi untuk donasi kegiatan Kesehatan Muslim. Info : klik di sini.

About Author

dr. Raehanul Bahraen

alumni Fakultas Kedokteran UGM, sedang menempuh pendidikan spesialis patologi klinik di FK UGM

View all posts by dr. Raehanul Bahraen »

Leave a Reply