Vaksin: Perbandingan “Kekuatan” antara Indonesia vs. Cina

Google+ Pinterest LinkedIn Tumblr +

Standar prekualifikasi (PQ) WHO adalah standar ketat yang diterapkan WHO yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan vaksin agar vaksin tersebut boleh diekspor ke luar negeri untuk memenuhi kebutuhan negara lain. Prosedur ini sangat ketat, sehingga meskipun suatu vaksin sudah lolos di Badan POM suatu negara produsen vaksin, belum tentu di tingkat WHO bisa lolos.

Tujuan adanya standar PQ ini adalah WHO ingin dan harus memastikan bahwa program vaksinasi di seluruh dunia memakai vaksin dengan kualitas dan mutu yang setara, sehingga terjamin efikasi (khasiat) dan keamanannya. Antara lain, konsistensi mutu (kualitas) produk dalam masa produksi yang berbeda.

Mengapa demikian? Karena pemberantasan penyakit menular melalui prgram vaksinasi adalah pekerjaan global, bukan pekerjaan negara tertentu saja. Suatu negara yang sudah dinyatakan bebas terhadap ancaman virus tertentu (karena keberhasilan vaksinasi di negara tersebut), bisa jadi masih terancam ketika program vaksinasi di negara lain belum berhasil karena memakai vaksin dengan kualitas di bawah standar. Kita hidup di era global, mobilitas penduduk antar negara sangat tinggi, sehingga rentan terhadap penyebaran penyakit, dalam hal ini penyakit infeksi.

Kalau kita cek ke web resmi WHO tentang vaksin apa saja yang sudah lolos standar PQ WHO, kita lihat bahwa PT. Biofarma (Bandung) sampai dengan bulan Agustus 2017 sudah memiliki 18 item vaksin yang lolos PQ WHO. Mulai dari vaksin DT, DPT, hepatitis B, campak, pentabio, OPV monovalen, bivalen, dan trivalen, dan juga vaksin TT.

 

 

Dari sini kita bisa melihat bahwa untuk vaksin MR dan vaksin polio IPV, biofarma belum bisa memproduksi.

Kita bisa membandingkan dengan Cina yang hanya memiliki 3 item vaksin yang lolos PQ, yaitu hanya vaksin Influenza (1 item) dan vaksin Japanese Encephalitis Virus (JEV) (2 item). Artinya, untuk urusan produski vaksin, Indonesia jauh lebih unggul dibandingkan dengan Cina. Tidak heran jika saat ini Biofarma sudah bisa memasok vaksin ke  lebih dari 100 negara di dunia.

 

 Dari daftar tersebut kita juga bisa melihat bahwa untuk urusan PQ WHO, meskipun jenis vaksinnya sama, tetapi ketika dikemas dengan dosis berbeda, masing-masing dosis harus lolos PQ WHO. Misalnya, vaksin TT dosis 1, 10 dan 20 suntikan, masing-masing kemasan dosis tersebut harus lolos PQ WHO.

Semua ini merupakan bukti ketatnya prosedur keamanan (safety) dari sebuah produk biologis bernama vaksin.

***

Selesai disusun menjelang maghrib, Rotterdam NL 18 Dzulhijjah 1438/10 September 2017

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

 

Share.

About Author

Lulus dari Fakultas Kedokteran UGM tahun 2009. Pada tahun 2013, menyelesaikan program pascasarjana (S2) di Research Master of Infection and Immunity, Erasmus Medical Center (EMC), University Medical Center Rotterdam, Belanda. Dosen di Bagian Mikrobiologi FK UGM. Alumni Ma’had Al-‘Ilmi, Yogyakarta.

Leave A Reply