Waspadai Makanan Haram di Sekitar Kita

Mengapa Harus Halal dan Thoyyib?

Syari’at Islam mengatur semua aspek kehidupan bagi pemeluknya, tak terkecuali masalah makanan dan minuman. Hukum asal semua makanan dan minuman adalah mubah kecuali yang telah dijelaskan keharamannya di dalam Al-Qur’an dan sunnah. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam sebuah ayat Al Qur’an :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi “ ( Q.S. Al-Baqarah : 168)

 Manhaj Islam dalam penghalalan dan pengharaman makanan adalah “Islam menghalalkan semua makanan yang halal, suci, baik, dan tidak mengandung mudhorot, demikian pula sebaliknya Islam mengharamkan semua makanan yang haram, najis atau ternajisi, khobits (jelek), dan yang mengandung mudhorot”.

 Perhatian Islam sangat besar terhadap kehalalan makanan karena selain berpengaruh pada kondisi jasmani, makanan yang masuk ke dalam tubuh seseorang juga bisa berpengaruh bagi kondisi rohaninya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa faktor makanan haram yang masuk dalam tubuh seseorang bisa menjadi sebab tertolaknya doa. Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tangannya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi…’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan?” [H.R Muslim]

Waspada, Makanan Haram Mengintai!

Sebagai seorang muslim, sudah semestinya kita berhati-hati dalam memilih makanan atau minuman yang akan masuk dalam tubuh kita. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, dimana banyak oknum produsen makanan yang menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan keuntungan berlipat. Beberapa waktu lalu, masyarakat dikagetkan dengan berita pemalsuan bakso sapi yang bahan bakunya menggunakan ayam tiren (mati kemarin) alias bangkai ayam. Tak berselang lama, muncul lagi pemberitaan yang lebih meresahkan, yakni adanya produksi bakso yang bahan bakunya merupakan campuran daging sapi dengan daging babi. Pada kesempatan kali ini, kami akan menyampaikan beerapa tips supaya terhindar dari mengonsumsi produk makanan yang palsu dan tidak halal.

Bagaimana Membedakan Daging Babi dengan Daging Sapi?

Daging babi memiliki bau amis, dagingnya lebih kenyal dan lembek, mudah direnggangkan, dan cenderung berair. Warnanya lebih pucat, mendekati warna daging ayam. Kadang penjual melumuri daging babi dengan darah daging sapi untuk mengelabuhi pembeli. Hal ini bisa kita ketahui dengan mencuci atau merendamnya dalam air. Serat lebih halus daripada sapi (kadang tidak terlihat), dan lebih renggang. Lemak babi lebih tebal dan cenderung berwarna putih, elastis, sangat basah dan sulit dipisah dari dagingnya. Sedangkan daging sapi memiliki bau anyir dan khas seperti yang telah kita ketahui. Tekstur daging sapi lebih kaku dan padat. Warnanya merah terang dan seratnya lebih kentara. Lemak sapi berwarna kekuningan, kaku, dan berbentuk.

Bagaimana Membedakan Daging Ayam Tiren (Bangkai) dengan Ayam Segar?

 Daging ayam yang mulai rusak agar terlihat segar kembali dibubuhi tawas dan pemutih sehingga terlihat segar dan menarik. Ayam yang sudah mati itu bulunya dicabut dan segera dicuci bersih sehingga tidak kelihatan bahwa itu adalah ayam mati. Selanjutnya ayam-ayam ini dijual ke pasar-pasar tradisional kecil dengan harga yang berlaku di pasaran. Penjualan ayam tak layak konsumsi tak berhenti dengan menjual sebagai ayam segar. Daging ayam tiren justru dijadikan daging olahan (misalnya bakso), menggunakan bumbu giling dan pewarna pakaian. Masalah bau diatasi dengan perebusan dengan kunyit. Bahkan kalau perlu ditambah bahan pewarna.

Ciri-ciri daging ayam tiren adalah dagingnya beraroma agak amis, dagingnya berwarna kebiru-biruan, pucat dan tidak segar, pada leher potongan ayam terlihat tidak lebar. Tidak mulus seperti ayam potong ketika hidup. Kalau dipegang kulitnya licin dan mengkilat, karena memakai formalin. Selain itu juga terdapat bercak-bercak darah pada bagian kepala atau leher ayam, serta harganya lebih murah. Sementara untuk ciri-ciri daging ayam yang baik, yakni dagingnya segar, tidak bau, berwarna putih dan bersih, serta tidak terdapat bercak-bercak darah pada dagingnya.

Bagaimana jika Sudah Diolah Menjadi Bakso?

 Tentu membedakan daging sapi dengan daging babi dan ayam tiren akan menjadi lebih sulit ketika sudah melalui proses penggilingan, pencampuran dengan bahan lain dan bumbu atau rempah-rempah sehingga menjadi produk olahan semisal bakso. Kami akan memberikan tips sederhana supaya kita tidak tertipu dengan produk makanan haram, seperti berikut ini :

  • Daging babi memiliki aroma lemak yang tajam dan bau amis yang khas, terlebih lagi jika bakso tersebut sudah direbus.
  • Meskipun warnanya hampir mirip, tapi jika bakso babi atau ayam tiren dipotong, maka akan nampak warna agak merah muda dan lebih pucat, bukan merah kecoklatan seperti sapi.
  • Tekstur bakso dari babi atau ayam tiren lebih halus, tidak kasar atau berurat seperti bakso sapi.
  • Khusus untuk bakso babi, pasti akan lebih berminyak meskipun dicampur dengan daging sapi, karena kadar lemak babi yang sangat tinggi sehingga ketika matang akan menghasilkan minyak.

Teliti Sebelum Membeli

Sebagai konsumen yang cerdas, hendaknya kita berhati-hati ketika memilih produk makanan yang akan kita beli. Dianjurkan untuk membeli daging dari tempat pemotongan hewan yang sudah mendapat sertifikasi halal atau membeli dari orang-orang yang terpercaya. Selain dagingnya lebih segar, kehalalannya pun bisa dipertanggungjawabkan. Jika hendak membeli makanan olahan seperti dendeng atau bakso, maka pilihlah yang dalam bentuk kemasan dan ada sertifikasi halal MUI-nya, hindari membeli dalam bentuk curah (tidak dikemas).

Begitu pula ketika hendak membeli makanan matang, hendaknya memilih tempat-tempat makan yang bisa dipercaya baik dalam hal pemilihan bahan makanan maupun pengolahan masakannya. Ketika hendak menyantap juga dianjurkan untuk waspada ketika warna, bau, dan rasanya tidak wajar. Jangan tergiur oleh harga yang murah, karena kemungkinan bakso yang dijual murah itu bisa jadi karena banyak campuran tepung kanjinya atau justru karena ada campuran daging babinya.

Demikian penjelasan singkat mengenai makanan halal dan sehat. Semoga bisa menambah wawasan dan bermanfaat bagi kita semua.

Silahkan like page Majalah Kesehehatan Muslim dan follow twitter

About Author

dr. Avie Andriyani

Alumni Fakultas Kedokteran UGM. Saat ini aktif menulis berbagai artikel kesehatan. Di antara tulisan yang sudah dibukukan adalah buku Panduan Kesehatan Wanita

View all posts by dr. Avie Andriyani »

Leave a Reply